Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

Hargamu Adalah Surga


Allah tabaraka wata’aalaa berfirman:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka...QS At Taubah:111.
Sesungguhnya dunia hanyalah titipan-titipan belaka sebagaimana dikatakan oleh Labid:
Tiadalah harta benda dan keluarga kecuali hanya titipan
Dan sudah pasti pada suatu hari titipan-titipan mesti dikembalikan

Dunia tidak sebanding dengan diri seorang mukmin sebagai harga keimanannya yang merupakan sesuatu yang melekat dalam hati dan dibenarkan oleh amalan. Tidak pula sebanding dengan apa yang didapatkan seorang mukmin sebagai harga jihadnya yang didasari oleh keimanannya. Karena inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

Selasa, 06 November 2012

Perlindungan Allah




 Allah tabaaraka wa ta'aalaa berfirman:
 "Sesungguhnya pelindungku adalah Allah Dzat yang menurunkan al kitab secara bertahap dan Dia senantiasa melindungi orang-orang sholeh"QS al A'raaf:196.

Dalam ayat ini terdapat berita gembira bagi orang-orang sholeh dari kaum muslimin. Berita gembira berupa sesuatu yang bernama Tawalli, perlindungan dari Allah. Perlindungan dan pertolongan Allah kepada orang-orang sholeh sebagaimana Allah melakukan hal ini kepada para nabi dan rasul alaihimusshalaatu wassalaam.

Selasa, 09 Oktober 2012

Pertolongan Hanya ditangan Alloh




النصر بيدالله وحده
Alloh berfirman:
وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلأَّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Dan Alloh tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Alloh yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ali Imron : 126)

Dari ayat ini bisa diambil kesimpulan bahwa pertolongan itu seperti rezeqi, yaitu qodho'. Seperti halnya manusia tidak memiliki kuasa menentukan rizqi dari sisi waktu dan jumlah, maka juga tidak ada seorang pun yang bisa menurunkan kemenangan pada waktu dan dengan ukuran tertentu. Adapun bagaimanakah Alloh menolong para Nabi dan utusan-Nya dan kapan pertolongan itu diberikan maka dengan melihat kisah tentang mereka dalam Al-Qur'an, kita akan menemukan tiga cara pertolongan Alloh :

Minggu, 17 Juni 2012

Menuju Jalan Keteguhan


 Termasuk pengaruh positif (atsar) rasa saling mencintai karena Allah adalah ketika Allah Mengumpulkan kita dalam Kutlah[1] yang indah ini. Kutlah yang berdiri untuk Islam dengan mendermakan segala kemampuan; demi menyelamatkan umat ini dari aneka ragam pemikiran yang merusak;demi mencetak generasi muslim yang terbina, berangkat dari firman Allah ta’alaa:
 
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki)dankepada-Nya-lahkamudikembalikan.” QS al Baqarah:245.

Telah dimaklumi bahwa lipatganda pahala adalah bagian dari anugerah Allah, dan anugerah Allah itu luas, Allah Maha Pemilik anugerah yang agung. Lipatganda pahala terpaut sesuai dengan jerih payah orang yang beramal karena Allah. Lipatganda pahala menjadi motivasi untuk giat beramal karena Allah di samping melawan kekendoran (Futur) serta rasa malas. Lipatganda pahala juga menjadikan muslim sebagai seorang Raghib, Shadiq dan Mukhlish. Keterpautan tersebut dijelaskan oleh Allah: 

 1).”Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya(dirugikan).”QSalAn’aam:160.

2) ” Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
  QS al Baqarah:265.

3) ” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.QS al Baqarah:261.


Lipatganda pahala sebagai bagian anugerah Allah yang luas juga terdapat dalam hal berikut:

a)       Sesuatu (pahala) yang terus mengalir setelah manusia meninggal dunia seperti sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

[Ketika anak Adam meninggal maka amal-amal terputus darinya kecuali dari sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shaleh yang selalu mendo’akannya” ] (HR Muslim Bab Ma Yalhaq al Insan min ats tsawab ba’da wafatihi). Hadits ini semestinya bisa dipergunakan memotivasi dan meneguhkan diri kita berada dalam Kutlah ini yang secara bersama-sama mengikat dan menghubungkan kita dengan tiga hal tersebut; Sedekah Jariyah demi perluasan sarana prasarana yang ditangani oleh yang berwenang dalam kepengurusan , Ilmu yang Bernanfaat demi memperdalam wawasan keislaman kita yang mempunyai modul, ciri khas tersendiri atas dasar penyatuan fikrah sebagai suatu aktivitas bersama, Anak yang shaleh yang selalu mendo’akan demi mencetak generasi yang memilik keimanan kuat sebagaimana diperingatkan Allah,

 ” Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”                     QS An Nisa: 9.

Catatan:

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  Yad’u lahu/ (.yang selalu mendo’akannya)  ”teks ini tidak bersifat mengikat (Taqyiid) , tetapi hanya sekedar dorongan (Tahridh), sebab orang tua tetap mendapatkan pahala (poin) dari anak shalehnya setiap kali si anak beramal shaleh baik ia berdo’a untuk orang tuanya maupun tidak berdo’a, atau sekedar menunjukkan makna Taghlib (kebanyakannya) sesuai keberadaan anak sebagai seorang yang paling peduli memperbanyak do’a untuk orang tuanya.

b)      Sesuatu (pahala/poin) yang dikumpulkan untuk orang yang menyeru kepada petunjuk ketika ia  juga mendapatkan pahala sepadan dengan pahala orang-orang yang mengikutinya seperti disebutkan dalam hadits,
[Barang siapa menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala sepadan dengan pahala orang-orang yang mengikutinya, sedikitpun itu  tidak mengurangi pahala mereka. Barang siapa mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa sepadan dengan dosa orang yang mengikutinya, sedikitpun itu tidak mengurangi dosa-dosanmereka”HR Ahmad Muslim. seperti yang berkembang pada masa ini berupa akad dengan sistem MLM (Multi Level Marketing).

Abuya As Sayyid al Habib Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani dalam Dzikrayat wa Munasabat hal 137 mengatakan:

Dan itu semua menjadi berlipat ganda dengan keberadaan penyeru petunjuk atau perintis suatu sunnah hasanah yang mendapat pahala dari orang yang mengikuti dan menjalankannya sesuai dengan jumlah mereka yang kemudian lipatganda tersebut juga berlaku bagi Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam selaku manusia yang menunjukkan sekaligus diutus kepada orang tersebut. Jadi tiada seorang Arif  dari umat ini kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mendapat pahala sepadan dengan pahala makrifatnya serta digabungkan dengan makrifat-makrifat Beliau shallallahu alaihi wasallam. Tiada seorang pemilik Hal  dari umat ini kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mendapat pahala sepadan dengan pahala Hal nya seraya digabungkan dengan Ahwaal  Beliau shallallahu alaihi wasallam. Tiada Maqalah  yang mengantarkan kepada kedekatan dengan Allah ta’ala kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendapatkan pahala sepadan Maqalah tersebut seraya digabungkan dengan Maqalah dan penyampaian Risalah Beliau. Tiada Amal yang mengantarkan kepada kedekatan dengan Allah azza wajalla  yang berupa shalat, zakat, memerdekakan budak, jihad, berbakti, berbuat baik, dzikir sabar, dan memaafkan kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendapatkan pahala sepadan dengan orang yang menjalankan amalan tersebut seraya digabungkan dengan amal-amal Beliau. Tiada derajat tinggi dan martabat mulia yang dicapai seseorang dari umat ini atas bimbingan dan petunjuk Beliau kecuali Beliau juga mendapatkan pahala sepadannya seraya digabungkan dengan derajat Beliau shallallahu alaihi wasallam.

Karena itulah dikatakan:

Cintailah Nabimu, agungkanlah  derajatnya.
 Bersikaplah pelit dengan agamamu, selama terlihat ada dosa pada dirimu


Taushiah ini disampaikan pada Multaqo Jamaah Dakwah al Haramain ke 8
Dilaksanakan di Ma’had Nurul Haramain
Sabtu – Ahad 2-3 Rajab 1429 / 5-6 Juli 2008




Sabtu, 02 Juni 2012

Menyorot Kondisi Akidah Kita


 
Taushiyah Vol IV Edisi 42

Opini global seperti pluralisme ( paham kemajemukan ), humanisme ( paham kemanusiaan ), dan feminisme ( paham kesetaraan jenis kelamin ), dan lain sebagainya tampak cukup mewarnai kehidupan ummat manusia saat ini. Dengan opini-opini global itu jadinya tidak ditemukan lagi perbedaan yang signifikan ( berarti ) antara haq dengan batil. Opini yang selalu lahir dari negara maju ( Barat ) ini ternyata kini berimbas kepada pemahaman akidah yang dianut oleh sebagaian kaum muslimin. Akidah yang harus dibanggakan itu kini mengalami proses penggerogotan, pelunturan, dan pendangkalan.
Beberapa waktu lalu kita mendapati gejala ummat Islam mengikuti natalan bersama pengikut Kristen, makan makanan mereka, hadir di gereja mereka dan tidak segan mengucapkan: selamat natal, 1 termasuk juga doa bersama antar agama, ta’jil puasa di vihara dan musik kosidah di hari Natal. Kita juga mendapati fenomena ridlo terhadap keberadaan Yahudi yang jahat, berikut para penyokongnya, China dan Amerika. Anehnya itu justru dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dijadikan panutan oleh sebagian besar kaum muslimin. Dalam beberapa waktu mendatang jika ini tidak diantisipasi tentu fenomena ini akan semakin marak seiring dengan mendalamnya ide kemanusiaan dan kemajemukan. Dan pada akhirnya akan kaburlah identitas kaum muslimin yang luhur.
Opini-opini yang menyesatkan di atas mendapat penerimaan yang baik di kalangan kaum muslimin seringkali dengan menggunakan alasan “serba fiqh”. Fiqh yang dalam sistem hukum Islam memiliki daya kelenturan, keluwesan, akomodasi dan kompromi yang tinggi kerap dipakai sebagai alat pembenaran (justifikasi) terhadap suatu sikap.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana teknis (standart) memilah antara urusan fiqh dan urusan akidah? Contoh soal asas organisasi dan natalan bersama itu kaitannya dengan akidah atau dengan fiqh? Imam Al Ghazali menyebut penerapan fiqh yang diikuti hilah (rekayasa) adalah fiqh dloror (fiqh yang berbahaya). Sementara Soekarno menyebut muslim yang meletakkan fiqh di depan tauhid dan akhlak sebagai muslim sontoloyo.(Di bawah Bendera Revolusi,493)
Selain alasan fiqh, alasan yang sering digunakan untuk menerima opini-opini di atas ialah alasan sejarah. Kita melihat betapa Piagam Madinah (mitsaq Al Madinah) selalu dipakai alasan terhadap absahnya kesatuan ummat manusia tanpa memandang unsure agamanya. Jonathan Swift, seorang pastor menyatakan bahwa agama hanya membuat ummat manusia saling membenci tidak saling mencintai. Hal yang masih samar di sini ialah alasan sejarah itu sudah pas dan tepatkah penempatannya?
Walhasil,kini kita melihat kecenderungan sebagian besar arus kaum muslimin dengan berbagai alasan agamanya untuk menerima ide-ide yang bertentangan dengan akidahnya, sebagai akibat dari proses penipisan akidah, setelah mendapati gempuran berbagai opini global berikut tuntunan sikap para tokoh panutannya.

Farqon dan Nur
Diantara sifat yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa ialah furqon, yaitu petunjuk yang dengan itu dapat dibedakan antara yang hak dan yang batil. Dengan memiliki sifat ini maka orang yang bertakwa dan beriman akan mendapati kejelasan hukum dalam perilakunya. Sehingga ia tidak sampai terkena jebakan upaya pengkaburan. Di dalam A Qur’an Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah mempunyai karunia yang besar.”  (Q.R. Al Anfaal: 29)
Anugerah furqon ini dalam sifat-sifat orang yang beriman dan bertakwa lainnya disebutkan dengan nur yang dengan nur ini dia mampu menapaki jalan yang terang dan lurus. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya, niscaya Alloh memberikan rahmatNya kepadamu dua bagikan, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa menapaki jalan dan Dia mengampuni kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Hadid: 28)
 Dengan adanya furqon dan nur ini berarti sebagai orang yang beriman dan bertakwa dituntut memiliki prinsip yang jelas sekaligus tegas di tengah arus besar (mainstream) kelembekan banyak orang dalam berakidah. Hal ini diperlukan supaya tergambarkan bahwa tidak pernah ketemu haq dan kebatilan dengan segala perbedaannya yang tajam. Berbagai upaya pengkaburan tentu dapat diantisipasi lewat sini. Sahabat Umar bin Khattab dalam hal ini adalah teladan kita yang begitu kuat intuisi (feeling) furqonnya sehingga ayah Sayyidah Hafshah ini mendapati gelar Al Faaruuq.
Kecenderungan meniadakan antara hak dan batil serta kecenderungan menipiskan pemisah antara iman dan kekufuran memang berangkatnya dari minimnya keimanan dan ketakwaan (akidah). Untuk mereformasi ihwal ini tentulah dibutuhkan generasi yang memiliki akidah yang mapan sehingga bersamaan denga kemapanan akidahnya itu dianugrahkanlah kepadanya Furqon dan Nur dari Allah swt. Lewat organ kejama’ahan, semoga kita menjadi generasi model begini.     
Wallohu A’lam

Kamis, 17 Mei 2012

Kembali Kepada Syari'at Islam


Taushiyah Vol VII Edisi 69

 
Allloh Subhanahu waTa’ala berfirman:

  

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak bertahkim kepada Thogut,padahal mereka telah dipertintahkan mengingkari Thoghut itu.Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya(QS.An Nisa’ 60)

Manusia,disamping memiliki watak-watak positif juga memiliki watak-watak negatif.Diantara watak-watak negatif itu,seperti diingatkan Al Quran,ialah makhluk mulia ini cenderung ingkar,kufur dan tidak berterimakasih terhadap karunia besar yang diterimanya.Salah satu pembentuk faktor ini adalah manusia menganggap karunia agung yang diterimanya sebagai hal yang biasa.
Adanya matahari,udara,air,gigi,mata,akal serta ragam jenis binatang dan tumbuhan misalnya,sesungguhnya merupakan karunia yang amat agung.Namun,karena hal-hal itu dianggap biasa,manusia cenderung mengingkarinya.Setiap hari bahkan setiap saat manusia bergaul dan bergumul dengan hal-hal itu,sehingga dia tidak sempat merenungkan dan tidak merasakan keagungannya.Seperti halnya istri,Isteri cenderung durhaka kepada suami yang berbaik hati kepadanya,kerap disebabkan ia menganggap tanggungjawab dan nafkah suaminya sebagai hal biasa saja,tidak istimewa.Firman Alloh swt:

“Sesungguhnya manusia itu amat ingkar tidak berterimakasih kepada Tuhannya,dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS Al Aadiyat; 6-8)
Bentuk tidak adanya terimakasih kepada Alloh swt itu tampak,misalnya,dari kontrasnya apa yang diucapkan manusia dengan apa yang diperbuatnya.Setiap saat manusia muslim mengaku dan mempersaksikan bahwa tiada Tuhan selain Alloh,sholat,ibadah,hidup dan matinya hanya dipersembahkan bagiNya,dan bahwa Nabi Muhammad  adalah utusannya.Namun,fakta perbuatannya,hukum-hukum Alloh dan Rosululloh yang diakuinya itu tidak ditegakkan dan enggan diperjuangkan.Justru mengambil hukum-hukum Thoghut,yaitu hukum-hukum selain dari Alloh swt dan Rosululloh saw atau hukum-hukum yang tidak mengacu kepada Al Quran dan Sunnah.Hukum-hukum Thoghut itu dijadikan supremasi dan dijunjung tinggi-tinggi ,tanpa rasa berdosa,sementara Syari’at Islam dianggap biasa,tidak memiliki nilai-nilai keunggulan yang patut dibanggakan.
Hasil dari kenyataan ini adalah dominannya orang-orang yang beragama Islam secara statis.Mereka puas dengan hanya sekedar pengakuan syahadatnya,masjidnya yang ribuan,atribut-atribut keislaman,semaraknya kegiatan keislaman,dan ritual lainnya.Sementara berkaitan dengan  undang-undang ,peraturan dan perilaku dimasyarakat,mereka diam.Seakan-akan mereka melakukan tawar-menawar dengan Alloh bahwa kalau soal ritual menjadi urusan agama,sedang urusan hukum,politik dan ekonomi,adalah wilayah mereka sendiri yang bisa diubah dan ditetapkan menurut kehendaknya.Suatu bentuk sikap keagamaan yang tidak totalitas.
Kenyataan ini,paling tidak,tampak dari gagalnya Syari’at Islam (yang tersurat dalam Piagam Jakarta) dimasukkan dalam Undang-Undang Dasar pada sidang MPR beberapa waktu lalu,sementara wakil-wakil rakyat yang duduk di dalamnya mayoritas beragama Islam di satu sisi dan disisi lain masyarakat muslim yang mayoritas di bumi ini tidak bersuara,mendukungnya,malah sebagian menolak dengan terang-terangan,dengan mengatasnamakan toleransi.kemajemukan,keberagaman,keterbukaan ,kebebasan dan hak asasi manusia.
Memang,siapapapun yang mengakui Alloh sebagai Tuhan,membenarkan setiap kewajiban serta memahami halal-haram sebatas kata-kata dilisan tetap patut dianggap muslim.Akan tetapi,pengakuan Alloh sebagai Tuhan itu hakikatnya merupakan kunci pembuka baginya tegaknya syari’at Islam dan berdirinya komunitas masyarakat muslim yang harus diikuti kehendak menjadikan aspek-aspek hukum seluruhnya mengacu hanya kepada Alloh swt.
Negeri ini,belakangan dilanda krisis multidimensi yang tak kunjung berakhir.Kriminalitas meningkat.Moralitas merosot.Kerusakan alam.Ancaman disintegrasi.Korupsi menjadi-jadi.Pengangguran.Kebodohan.Kemiskinan.Kesenjangan dan sebagainya.Itu semua membutuhkan solusi alternatif,sementara ideologi  yang disodorkan selama ini telah terbukti gagal.37 tahun setelah merdeka bukan maju tetapi malah mundur.Tidak tinggal landas,malah “landasannya tertinggal”.
Solusi alternatif yang anggun dan mengesankan adalah kembali kepada Syari’at Islam sebagaimana hukum-hukum Alloh swt dan Rosululloh saw ini dahulu pernah ditegakkan  dalam pemerintahan negri Pasai,Buton,Banten,Demak,Banjar,Betawi,Bima,Ternate,Makasar dsb.
Cita mulia ini niscaya membutuhkan perjuangan yang keras dan tegas.Memang ada seruan lunak dalam bersikap.Namun untuk hal yang prinsipil dan tidak bisa ditawar,harus ada sikap tegas,teguh dan kokoh.Bersemangat tinggi.Bila tidak,niscaya akan diperas dan diperah.Diinjak.Didikte.Dan kaum muslimin akan kembali menjadi korban dari toleransi.Mereka harus terasing (teralienasi) di rumah sendiri.dalam hal ini sikap lembek merupakan pertanda al-wahn (lemah spiritual).Dalam pepatah dikatakan:
لا تكن يا بسا فتكسر ولا تكن لينا فتعصر
“Jangan kamu kaku sebab kamu akan dipatahkan dan jangan pula lembek karena kamu akan diperas”
Ketegaran dan ketabahan dalam menempuh jalan ini memang dibutuhkan.Sebab trend (arus besar) dunia saat ini cenderung memisahkan agama dari negara (sekularisasi),ditambah stigma (cap buruk) pada kalangan yang bergerak dalam hal itu sebagai teroris,radikal,fundamental,eksklusif,ekstrim dan sebagainya.Mantan presiden Amerika serikat  Richard Nixon,misalnya,menyebut lima ciri kaum “fundamentalis Islam”: (1) Mereka yang digerakkan oleh kebencian yang besar terhadap barat,(2) mereka yang bersikeras mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan masa lalu itu,(3) mereka yang bertujuan mengaplikasikan Syari’at Islam,(4) mereka yang mempropagandakan bahwa Islam adalah agama dan negara,dan (5) mereka yang menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun bagi masa depan.(Imarah,1999,hal 35)
Di negri ini (Jawa Hokokai) menjelang kemerdekaan tahun 1945 dahulu,ada 52.000 pucuk surat dari ulama dan tokoh Islam seluruh Indonesia yang isinya berupa saran tentang dasar negara yang mesti diperjuangkan.Isinya sudah dapat diduga ialah tuntutan akan adanya negara berdasar syari’at Islam.Hal ini diungkapkan oleh Jendral A.H. Nasution pada suatu kesempatan tahun 1963.(KH.Firdaus AN,1999,hal 83)
Sejarah mencatat bahwa kalangan ulama dan kyai yang tergabung dalam NU melalui KH.A Wahid Hasyim dalam persidangan BPUPKI dan PPKI telah ikut memperjuangkan negara berdasar syari’at Islam.Upaya ini gagal.Lalu dicapailah jalan tengah berupa Piagam Jakarta.Tetapi kesepakatan ini kemudian dibatalkan sehari setelah kemerdekaan.Tetapi NU sebagai partai politik ikut memperjuangkan di Majelis Konstituante.Upaya ini juga gagal.Selanjutnya pada tahun 1949 PBNU berupaya meyakinkan Bung Karno bahwa aspirasi ummat Islam tentang piagam Jakarta perlu diperhatikan kalau UUD 1945 diberlakukan kembali.Piagam Jakarta lalu ditempatkan sebagai konsideran (keterangan pendahuluan / sebagai dasar keputusan) dalam dekrit pemberlakuan kembali UUD 1945 itu.Dalam menggolkan UU yang pro-Syari’at Islam,kader-kader NU dahulu juga sangat getol. (SholahuddinWahid,2001,hal 25)
Pada tanggal 4 Februari 1953,PBNU mengeluarkan surat protes  atas pernyataan Bung Karno di Amuntai,Kalsel,”Kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam,banyak daerah yang penduduknya tidak beragama Islam akan melepaskan diri,misalnya Maluku,,Bali,Flores,Timor,Kai dan juga irian Barat.”Dalam surat PBNU yang ditanda tangani oleh KH A. Wahid Hasyim (Ayahanda Gusdur) dan ditujukan kepada Presiden Soekarno itu ditegaskan,”Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian,menurut pandangan hukum Islam adalah pernyataan yang mungkar dan tidak dapat dibenarkan Syari’at Islam dan wajib bagi tiap-tiap muslim ingkar atau tidak setujunya”.(Anshari,1997,hal,69)
Kini,para pemuka agama Islam yang notabene berilmu luas seperti merubah haluan.Apakah karena merasa perjuangan lewat jalur undang-undang dasar tersebut tidak efektif lalu menempuh jalan lain yang dirasa efektif yaitu melalui legislasi undang-undang? Ataukah pilihan itu dilandasi sikap melunak dan toleransi tinggi terhadap fakta keberagamaan dan kemajemukan? Ataukah pesimis (mental kalah sebelum bertanding) Ataukah takut resiko,khawatir dihantui teror Amerika Serikat,pertimbangan membawa massa yang banyak,atau prasangka negara berlandaskan Syari’at Islam tidak lebih baik dari negara yang berideologi Plural? Wallohu A’lam.Dalam Pepatah dikatakan:
العلم بلا غيرة جا مد
“Ilmu tanpa dilandasi semangat yang bergelora  maka ia serasa beku,mati dan statis”
Dr.Setia Budi (Douwes Dekker) menyatakan,”Kalau tidak ada semangat Islam di Indonesia,sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia” (Sholahuddin Wahid,2001,hal 93)
Ayat tersebut di muka membuka mata bahwa orang-orang yang beriman kepada Alloh swt dan Rosululloh saw justru mengadopsi hukum-hukum thoghut yang mungkar,padahal itu tidak patut dan terlarang.Sementara ,mendapati  sikap ini setan memberikan dukungan yang luar biasa.Secara tersirat,ayat dimuka memberikan peringatan agar sikap semacam itu dihindari jauh-jauh.
Maka di tengah krisis multidimensi ini,solusi alternatif harus segera dicermati.Solusi yang paling elegan dalam hal ini adalah kembali Kepada Syari’at Islam.atau krisis ini akan terus berlanjut dan dari hari ke hari semakin parah,bahkan menjadi bumerang di kemudian hari? Jaminan Alloh swt:

“Jikalau sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertaqwa,pastilah akan Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’rof: 96)
Perjuangan ini pasti membutuhkan kerja keras kita semua,sebagai ungkapan terimakasih kita atas karunia  Alloh swt yang kita terima.Pujangga Mesir,Syauqi Bek dalam syairnya berpesan:
قف دون رأيك في الحياة مجا هدا # ان الحياة عقيد ة وجها د
“Bangkitalah engkau berjuang membela pendirian.Sesungguhnya hidup ini keyakinan dan perjuangan”
Tegaknya Syari’at Islam di negri Madinah kiranya dapat dibuat ibroh.12 orang merintis perjuangan itu melalui Baiah Aqobah 1.Setahun kemudian dapat digaet 73 orang dalam Baiah Aqobah 2.Berikutnya ratusan-ribuan orang,hingga berdiri sistem Islam dinegri metropolitan ini.Hanya dengan seorang dai awalnya: Sahabat  Mush’ab in Umair ra.Namun para perintis itu memang kader-kader pilihan atas dasar kesediaannya berjanji setia (baiat) dihadapan Rosululloh saw.Pelajaran yang bisa dipetik ialah selama visi menegakkan syari’at Islam itu kuat,betapapun rintangan menghadang,dipadu dengan semangat yang menyala-nyala,suatu keniscayaan bahwa syari’at Islam bisa tegak berdiri di suatu negri.Tinggal persoalan waktu,dekat atau jauh.
Wallohu A’lam
18.Agustus 2002 M – 9 Jumadil akhir 1423 H

Rabu, 16 Mei 2012

Manfaat Ketaatan dan Bahaya Kemaksiatan bagi Allah


[سبحان من لا تنفعه الطاعة ولا تضره المعصية]
عن أبي ذر الغفاري ضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه أنه قال (...يَا عِبَادِيْ لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّـكُمْ كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِيْ شَيْـئًا , يَا عِبَادِيْ لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّـكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئًا ...) رواه مسلم , انظر حديث الأربعين للنووي رقم 24 .

وعليه فإن العبادة التي خلق الإنسان لأجلها مقياس يعرف به شكره وكفره , قال تعالى : [ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرْ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ ] النحل : 40 . وصلة بينه وبين ربه للتقرب إليه رمزا للطاعة ووسيلة لحبه قال صلى الله عليه وسلم : ( ...وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْـتُهُ عَلَيْهِ وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّـهُ ...) رواه البخاري .
قال النووى رحمه الله : والمحبة من الله لعبده إرادة الخير له فإذا أحب عبده شغله بذكره وحفظه من الشيطان واستعمل أعضاءه فى الطاعة وحب الخير ولذلك حفظ بصره عن المحارم فلا ينظر إلى ما لا يحل له وصار نظره نظر فكر واعتبار فلا يرى شيئا من المصنوعات إلا استدل به على خالقه وقال علي رضي الله عنه : " مارأيت شيئا إلا ورأيت الله قبله ". ومعنى الإعتبار العبور بالفكر فى المخلوقات إلى قدرة الخلق فيسبح ويحمد ويهلل ويقدس ويعظم وتصير حركاته وتصرفاته كلها لله تعالى ولا يمشي فيما لا يعنيه ولا يفعل بيده شيئا عبثا بل تكون حركاته وسكناته لله تعالى فيثاب على ذلك فى سائر أفعاله ولا يحقر من المعروف شيئا لأن همه إبتغاء مرضاة الله  وما عليه إلا أن يقبل فيه راغبا ومخلصا وصادقا فإن مدار القبول على الصدق مع الله الذي يعظم معه الصغير ويكثر به القليل ويسبق به المتأخر [ ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَي بِهِ عَلِيْمًا ] النساء : 70 , لا مرضاة الناس بل قد يضطر أحيانا إلى إغضاب الناس في سبيل مرضاة الله لقوله صلى الله عليه وسلم : ( مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللهُ مَؤُوْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللهِ بِسَخَطِ اللهِ وَكَّلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ ) رواه الترمذي والقضاعي وابن عساكر بسند حسن .
ولا يغتر بعمله  وفقا لهتافه :  " أَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجِدِّ مِنْكَ الْجِدُّ " بكسر الجيم اي الجد فى العبادة . بل يرجو فضله ورحمته ويفرح بذلك قال الله تعالى : [ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ ] يونس : 58 .
أللهم إني أسألك فعل الخيرات وترك المنكرات وحب المساكين
 وأن تغفر لي وترحمني وأسألك حبك وحب من يحبك
وحب عمل يقربني إلى قربك آمين .
والله يتولى الجميع برعايته



Manfaat Ketaatan dan Bahaya Kemaksiatan bagi Allah

Dari Abu Dzarr al Ghiffari ra dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa Allah Azza wajalla  berfirman: [ Wahai para hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi  seperti paling bertaqwanya hati seorang lelaki di antara kalian maka hal itu tidak menambah sedikitpun kekuasaanKu. Wahai para hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi  seperti paling jeleknya hati seorang lelaki di antara kalian maka hal itu tidak mengurangi sedikitpun kekuasaanKu…]  (  HR Muslim. Lihat Hadits Arbain nomer 24 )

Atas dasar ini, ibadah yang karenanya manusia diciptakan merupakan; 1) standar untuk mengetahui kadar syukur dan kufurnya. Allah berfirman:  { Ini adalah termasuk anugerah Tuhanku agar Dia menguji apakah aku bersyukur ataukah kufur. Dan barang siapa yang bersyukur maka itu untuk dirinya sendiri dan barang siapa kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya Maha Mulia } ( QS an -Nahl : 40 ), 2) Hubungan ( shilah ) antara dirinya dengan Tuhannya dalam rangka mendekat kepadaNya sebagai isyarat  ketaatan dan sebagai 3) Sarana ( Wasilah ) mendapatkan cintaNya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “ HambaKu tidak berusaha mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaKu selalu berusaha mendekat kepadaKu dengan amal – amal sunnah sehingga Aku Mencintainya…”  ( HR Bukhari )

Imam Nawawi berkata: Kecintaan Allah kepada hambaNya adalah kehendak baikNya untuk hamba tersebut. Karena itu jika Dia Mencintai hambaNya maka Dia menyibukkannya dengan berdzikir kepadaNya, Dia menjaganya dari setan dan memfungsikan anggota tubuhnya dengan ketaatan dan suka akan kebaikan. Hal ini menjadikan hamba tersebut menjaga pandangannya dari hal – hal haram. Ia tidak melihat sesuatu yang tidak halal baginya. Pandangannya adalah pandangan berfikir dan mengambil pelajaran. Ia tidak melihat sesuatu dari ciptaan – ciptaan kecuali menjadikannya sebagai dalil akan wujud Sang Pencipta. Ali ra berkata: Aku tidak melihat sesuatu apapun kecuali aku melihat Allah sebelumnya.

Makna mengambil pelajaran ( I’tibar )  adalah membawa fikiran kepada kesimpulan akan kekuasaan Allah hingga manusia (pemilik fikiran) pun bertasbih, memuji Allah, bertahlil, mensucikan dan mengagungkan Allah. ( dengan demikian ) menjadi- lah seluruh gerak dan aktivitasnya secara keseluruhan karena Allah. Ia tidak berjalan kecuali dalam hal yang berfaedah baginya. Tangannya tidak berbuat sesuatu yang sia - sia.  Sebaliknya, seluruh gerak dan diamnya adalah karena Allah sehingga seluruh yang dilakukannya menjadi bernilai pahala dan ia tidak menganggap remeh sedikit kebaikan. Ini karena tekadnya adalah mencari Ridha Allah yang berarti tidak ada pilihan baginya kecuali harus bersemangat, ikhlash dan serius ( jujur ) sebab penerimaan Allah ( Qabul ) yang menjadikan hal kecil menjadi besar, hal sedikit menjadi banyak dan yang belakangan menjadi terdepan adalah tergantung keseriusan ( kejujuran ) bersama Allah { Itulah anugerah dari Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat Maha Mengetahui } (QS an – Nisa’ : 70 ), bukan Ridha manusia, bahkan dalam suatu saat terpaksa harus menjadikan manusia marah di jalan mencari Ridha Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam : “ Barang siapa mencari ridha Allah dengan kemarahan manusia maka Allah pasti mencukupinya dari ketergantungan kepada manusia. Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan kemarahan Allah maka Allah menjadikannya bergantung kepada manusia “( HR Turmudzi, Qudhai dan Ibnu Asakir dengan sanad Hasan ).

Dan dirinya tidak tertipu oleh amal yang telah dilakukan sesuai dengan bisikan do’anya: “ Ya Allah, tidak akan ada orang yang bisa menolak apa yang Engkau berikan dan tak ada seorang pun yang bisa memberi apa yang Engkau cegah. Dan usaha kuat ( dalam ibadah) orang yang giat ( beribadah ) tidak bermanfaat baginya darimu “, tetapi ia senantiasa berharap anugerah dan rahmatNya dan bergembira karena itu. Allah berfirman: { Katakanlah : Dengan anugerah dan rahmat Allah maka karana itulah hendaknya mereka bergemnbira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka usahakan } (QS Yunus : 58).

Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadaMu
bisa berbuat kebajikan dan menghindari kemungkaran serta mencintai orang - orang miskin.
 Saya memohon agar Engkau mengampuni dan mengasihiku.
Dan saya memohon kepadaMu bisa mencintaiMu, mencintai orang yang mencintaMu
dan mencintai amalan yang mengantarkan kepada kedekatan denganMu. Amin

والله يتولى الجميع برعايته

Kemuliaan Hanya Milik Allah


Allah tabaaraka wata’aala berfirman :

‘’ …..Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah “       (QS:An  Nisa’  : 139)

Perang  Badar al Kubra terjadi pada bulan Ramadhan al Mubarak.Peperangan ini mengandung sekian pelajaran seperti halnya juga mengandung banyak mukjizat ketika Allah menguatkan dan memberikan pertolongan kepada kaum muslimin pada kondisi saat mereka sedang lemah sehingga bisa mengalahkan kaum kafir. Allah berfirman :

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang Badar,padahal kamu adalah ( ketika itu ) orang-orang yang lemah.”      QS  Ali Imran : 123. 
 
“…yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin,yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir,yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela Itulah karunia Allah,di berikan-nya kepada siapa yang di kehendaki-nya, dan Allah Maha luas   ( pemberian-nya ) lagi Maha mengetahuiQS  al  Maidah :  54 .

 
“ … Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang – orang yang sabar  “ QS   al Baqarah  :  249



Mereka berjihad di jalan Allah dengan satu keyakinan sesungguhnya kemuliaan hanya milik Allah,bukan berasal dari diri mereka sendiri.Mereka tidak merasa takut cercaan orang yang mencerca dengan dasar keyakinan bahwa kerendahan hanya boleh pada Allah dan bukan pada selainNya.Maka tiada kemuliaan kecuali karena Allah.Adapun kerendahan karena selain Allah maka hal inilah yang Rosululloh shollollohu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan darinya: “Saya memohon perlindungan dari kehinaan kecuali padaMu!!”
Dan ketika Rosululloh shollollohu ‘alaihi wasallam dan kaum beriman mempersembahkan pengorbanan mereka dijalan Alloh demi kemuliaan yang hanya ada disisinya maka Alloh menyebut mereka dengan firmannya:

“Dan adalah kemuliaan itu hanya milik Alloh,milik rosul-Nya dan kaum beriman” (QS Al Munafiqun:8).

Disini ada peringatan untuk selalu memurnikan niat yang  baik di jalan mencari kemuliaan tersebut.Dan dari sinilah selaras apa yang menjadi semboyan kita yang selalu di ulang-ulang oleh lidah kita di jalan dakwah (demi kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin) sebagai bentuk kewaspadaan agar tidak jatuh dalam hal yang akhirnya tidak terpuji dalam perjalanan dakwah itu sendiri sebagai akibat dampak-dampak yang memang memberikan pengaruh di dalamnya.Sungguh telah dikatakan: “Apa yang cemerlang dipermulaan akan cemerlang di puncaknya”.
Kerendahan kepada Alloh adalah pokok ibadah yang menjadi dasar keberuntungan manusia beriman seperti diisyaratkan dalam firman Alloh:


“Hai orang-orang yang beriman,ruku’lah kamu,sujudlah kamu,sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan” (QS: al Hajj:77)

Maksud ruku’ dan sujud adalah sholat.Dan secara khusus,keduaya disebutkan diantara sekian banyak model akktifitas sholat karena keduanya adalah yang termulia diantara rukun-rukun sholat yang lain karena keduannya benar-benar memanpakkan ketundukan dan kerendahan.
Penyebutan sholat secara khusus sebelum perintah ibadah-ibadah yang lain seperti puasa,haji,dzikir,bersholawat kepada Nabi shollollohu ‘alaihi wasallam dll serta sebelum perintah berbuat kebaikan kepada seama dengan zakat,pergaulan yang baik dan sekian budi pekerti mulia sebagai ibadah dalam bentuk berakhlak dengan akhlak-akhlak Alloh subhanahuu wata’ala,dalam hal ini semua ada penegasan bahwa sesungguhnya sholat adalah tiang agama.Dan kondisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia sedang bersujud.Ketika anggota badan yang paling mulia (wajah) diletakkan di tanah,sejajar dengan tangan,lutut dan kaki bahkan lebih rendah dari posisi anggota badan yang yang menjadi jalan keluar angin dan tinja dari duburnya dan urin dari  dari depannya (pantat),(ini semua) semata karena kerendahan kepada Alloh dan kemuliaanNya.Jadi barang siapa merendahkan diri kepada tuhanNya dan tunduk kepadaNya,maka sudah menjadi hak bagi Alloh untuk memberikan kemuliaan kapadanaya di dunia dan akhirat.Jadi,kemuliaan adalah dengan merendahkan diri kepada Alloh.Maka adakah kemuliaan yang lebih agung dan lebih besar daripada kerendahan diri seseorang kepada Tuhannya? Sungguh,terkadang anda menyaksikan seseorang yang mulia dalam penampilannya padahal disisi Alloh dia adalah orang yang hina,begitu juga orang yang tampak hina diluarnya,padahal disisi Alloh dia adalah orang yang mulia.
Benar bahwa Alloh telah memberi pertolongan kepada mereka pada perang Badar,begitupun ketika terjadi perang Hunain,yaitu ketika mereka berbangga dengan jumlah yang banyak dan menyangka bahwa kemuliaan berasal dari mereka sendiri sehingga salah seorang dari mereka berkata “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit” maka mereka pun dikalahkan.Alloh berfirman:

“Dan (ingatlah) perang Hunain,yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu),maka jumlah yang banyak itu tidak memberu manfaat sedikitpun kepadamu,dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu,kemudian kamu lari kebelakang dengan tercerai berai.” (QS.At Taubah: 25).

Padahal yang berkata demikian bukanlah pembesar shohabat,namun musibah menjadi merata agar kejadian ini menjadi pelajaran yang berharga.



17 Ramadhan   1431 / 26  Agustus  2010
(kamis malam Jum’at)