Tampilkan postingan dengan label TSAQOFAH (Harokah). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TSAQOFAH (Harokah). Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Metode Mengubah Masyarakat



الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي اشرف المرسلين سيدنا محمد و علي اله و صحبه اجمعين
Ketika Umar bin Khattab bergegas jalannya sembari menghunus pedang untuk membunuh Rasululloh, di tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdulloh dan ia menanyakan tujuan Umar, “Mau kemana engkau?”. Umar menjawab, “Saya ingin membunuh Muhammad yang telah mencerai- beraikan orang Quraisy dan menghina tuhan- tuhan kita!”.  Maka Nu’aim berkata kepadanya, “Engkau tertipu dengan dirimu sendiri,  wahai Umar. Bagaimana pandangan Bani Abdul Manaf terhadap dirimu yang berjalan di muka bumi untuk membunuh Muhammad, sedang keluargamu mengikuti dia?”, Kagetlah Umar seraya berkata, “Siapa yang mengikuti Muhammad dari keluargaku?”.Pertanyaan itu dijawab oleh Nu’aim, “Anak pamanmu, Zaid bin Said, dan saudara perempuanmu beserta istrinya.” Maka, pergilah ia ke rumah saudaranya (tidak jadi membunuh Rasululloh). Ketika sampai di pintu rumah saudaranya, Khattab bin Art sedang membacakan shohifah surat  Thoha pada Fatimah dan suaminya:

Selasa, 16 Oktober 2012

Kesetiaan / Loyalitas / Mituhu


Termasuk dari keindahan Islam seseorang adalah jika Islam tidak hanya diteguhkan dengan ibadah-ibadah yang dilakukan manusia seperti puasa, shalat, haji dll saja. Di samping itu Islam juga harus dikokohkan oleh pola jiwa (Nafsiyyah) manusia yang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam seperti diisyaratkan Allah dalam surat al Baqarah: 177; Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Sabtu, 09 Juni 2012

Agenda Utama Ummat Islam



T.Vol II.26

Kondisi terpuruknya perekonomian umat Islam, ternyata tidak menghalangi semangat untuk memunculkan partai-partai baru. Akhir-akhir ini banyak bermunculan partai yang berlabelkan Islam, suatu fenomena yang patut disyukuri keberadaannya. Karena dengan adanya parta-partai yang bernafaskan Islam tersebut kita semua berharap nantinya akan memunculkan tatanan dunia Islam yang baru di negeri ini, yang selama setengah abad belum diberi tempat secara proporsional semenjak kemerdekaan.
Namun di sisi lain, kita harus juga waspada dengan kemunculan partai-partai tersebut, karena meskipun secara syara' adanya banyak partai-partai yang berlandaskan  Islam dimubahkan, tidak menutup kemungkinan perpecahan dan gesekan-gesekan di tengah-tengah umat akan muncul. Kondisi inilah yang sangat tidak kita harapkan, lebih-lebih ummat manusia sekarang ini sebagian besar dilanda kekurangan dan langkanya bahan pokok makanan.
Jadi kemunculan partai-partai yang berlabelkan Islam ini akhirnya seperti pedang Sayyidina Ali ra,Dzul Fiqor yang memiliki dua mata pedang. Satu sisi menguntungkan umat Islam, sisi yang lain-mungkin-menghancurkannya. Maka dalam kondisi seperti ini harus ada sebagian umat Islam yang berfungsi sebagai pengontrol, penasehat sekaligus murabbi (pendidik) bagi umat ini, agar nantinya tidak jauh pada perpecahan dan gesekan. Untuk itulah maka diserukan pada umat Islam agar mematuhi rambu-rambu sebagai berikut:
1)      Memperkuat sendi-sendi ukhuwah Islamiyyah dengan melalui konsolidasi antar kelompok umat Islam. Dan hal itu harus dilakukan atas anjuran dan rekomendasi kelompok-kelompok tersebut, agar tidak terjadi konflik internal.
2)      Seyogyanya umat Islam tidak semuanya berkiprah dalam politik elite (pemerintahan), tapi harus ada yang berkiprah pada politik bawah (persiapan/pembinaan) untuk menyiapkan kader-kader bangsa ini yang bersyakhsiyyah (berkepribadian) islam. Karena dalam konsep kita pembinaan adalah jalur pertama yang harus di tempuh untuk mencapai Iqomah Ad Daulah (pemerintahan yang dilandasi Islam) Dalam hal pemisahan ini Alloh berfirman :

$tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râÉYãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâxøts
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS At-Taubah : 122)      Kalimat Alloh (لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ) "Supaya mereka bisa menjaga diri" adalah tujuan mengapa harus ada pemisahan tugas, artinya dengan adanya kelompok yang komitmen terhadap pembinaan adalah dalam rangka untuk menjaga kemurnian dari perjuangan saudara-saudara yang lain yang berada pada posisi politik elite, sekaligus berfungsi untuk menyiapkan kader-kader dakwah yang kokoh syakhsiyyahnya, guna mewujudkan iqamah Ad Daulah Al Islamiyyah.
Dalam kondiis seperti ini diharapkan seluruh umat Islam untuk tidak tergesa-gesa memberika statement yang justru memperkeruh situasi. Misalnya sikap saling dukung mendukung tanpa sepengetahuan atas apa yang didukung atau yang ditentangnya itu sudah sesuai dengan konsep-konsep Islam, baik secara khusus maupun umum atau malah bertentangan. Alloh berfirman:
zNÎ=sù šcq`!$ysè? $yJŠÏù }§øŠs9 Nä3s9 ¾ÏmÎ ÖNù=Ïæ 4
"...maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui.." (QS Ali Imran : 66)
Oleh karena itu kemunculan partai-partai yang berlabelkan Islam itu mari kita tunggu penjelasannya tentang konsep dasar partai serta program-programnya, apakah sesuai dengan konsep Islam (secara khusus/umum) atau tidak.
Inilah beberapa agenda yang harus dikerjakan umat Islam. Semoga Alloh SWT melindungi kita semua dan segera memberi pertolongan  yang dijanjikan-Nya. Amin.

Senin, 04 Juni 2012

Kolaborasi Manusia & Setan Menyeru Ke neraka Jahannam


 liberalism


 Taushiyah Vol VII Edisi 77
Jamaah dan Tauhidul Fikroh
Belakangan ini kita melihat gejala perpecahan menimpa sekian banyak partai politik dan ormas. Gejala ini banyak disebabkan oleh perbedaan pemikiran dan pandangan diantara individu-individu mereka. Ketika perbedaan itu menggumpal dan tidak ada titik temu, maka terjadilah sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan visi lahirnya partai politik dan ormas tersebut, yaitu perpecahan.
Kita tentu tidak menginginkan perpecahan terjadi pada jamaah dakwah kita. Untuk mengantisipasi hal itu, tauhidul fikroh (penyatuan pemikiran) harus senantiasa di bina diantara individu-individu jamaah. Hindari ikhtilaf yang menjurus kepada pertentangan, percecokan, perceraian, dan perpecahan. Hal ini sering kita peringatkan agar tidak ada yang memiliki pemikiran yang menyimpang, berdiri sendiri, atau mbalela, keluar dari arus pemikiran jamaah yang kita telorkan. Dalam hal ini, tansiq atau tandzim kejam’ahan adalah acuan kita.
Tauhidul fikroh merupakan sumber kekuatan sebuah jamaah. Dalam tubuh manusia, tauhidul fikroh ibarat nyawa. Sebuah jamaah betapapun besar dan memiliki banyak pengikut, tidak akan banyak berarti, bila tidak di tompang oleh tauhidul fikroh masing-masing individu di dalamnya. Terbentuknya jama’atul muslimin di kota Madinah duhulu rasanya hanya satu khayalan belaka seandainya tidak ada tauhidul fikroh di kalangan sahabat atas ide-ide dari pemimpin mereka, Rasulullah saw.
 Ada dua aspek pemikiran yang harus kita satukan pikiran, arah, persepsi, dan pandangan kita didalamnya, yaitu aspek fiqh (tauhidul fikroh fiqhiyyan) dan aspek politik (tauhidul fikrah siyasiyan). Tauhidul fikroh dengan demikian tidak hanya dalam hal norma-norma agama yang sifatnya baku, namun juga mencakup cara pandang terhadap dinamika politik yang selalu berubah dari waktu ke waktu, yang diperlukan ijtihad baru di dalamnya, yang semuanya mengacu kepada dalil-dalil syara’. Kesatuan pemikiran kita dalam dua hal ini merupakan cermin persatuan hati dan persatuan perasaan diantara kita.

Penyeru Ke Neraka Jahanam

Pemikiran yang harus kita persepsikan secara sama diantaranya ialah membentengi diri sekaligus melawan arus sekularisasi dengan segala jenisnya yang diperkirakan akan menjadi trend di masa-masa yang akan datang. Paham ini berupaya memisahkan persoalan agama (syariat) dari wilayah negara dan kehidupan sehari-hari. Padahal Islam adalah agama sekaligus panduan bagi bernegara (al-islam din wa daulah).
 Paham yang mendistorsi syariat Islam ini anehnya banyak di propagandakan oleh tokoh-tokoh dari kalangan umat Islam sendiri. Mereka mempergunakan dalil-dalil agama untuk membenarkan propagandanya. Tersebarnya paham sekular di kalangan umat Islam agaknya tak lepas dari peran serta mereka.
Sebagian tokoh dari kalangan umat Islam memandang bahwa negara harus dilepaskan dari campur tangan agama. Mereka tidak menginginkan syariat islam melembaga pada negara. Agama, menurunya, adalah urusan pribadi dan keluarga, sedeang agama adalah wilayah publik yang plural. Umat Islam, serunya, harus menjadi umat yang terbuka dan toleran, memahami agama tidak saja secara tekstual dan literal, melainkan kontekstual, karena masyarkat keberadaanya majemuk. Mereka mencap buruk orang Islam yang fanatik dan komit dengan Islam sebagai muslim radikal, ekstrim, dan tradisional. Mereka membiarkan kema’siatan dan kekufuran merajalela atas nama hak asasi, padal ridlo terhadap kekufuran hakikatnya adalah sesuatu kekufuran juga. Mereka memandang bahwa tata kehidupan sekular-lah yang dicita-citakan oleh para pendahulu. Terbukti, menurut mereka, para pendahulu sepakat membuang Piagam Jakarta yang telah mereka rumuskan dari perundang-undangan negara.
Propoganda semacam ini, karena dibungkus dengan retorika dan dalih-dalih keagamaan disamping karena oleh orang yang ditokohkan, seakan-akan tampak manis dan benar padahal berbisa dan menggelincirkan. Propoganda ini telah melepas keterikatan sebagaian umat Islam pada ajaran agamanya. Propoganda ini juga mendatangkan nilai-nilau universitas syariat Islam. Propaganda ini di sambut gembira oleh kalangan non-Islam, karena menguntungkan bagi mereka, apalagi di alukan oleh orang dalam umat Islam sendiri. Mereka dengan begitu bisa memukul umat Islam dengan meminjam tangan umat Islam sendiri.
Rasulullah saw memprediksikan bahwa akan muncul propaganda-propaganda yang menjerumuskan manusia ke neraka jahanam. Propadangan itu menurut beliau, dilakukan oleh kalangan umat Islam sendiri dan mempergunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits. Beliau menyatakan bahwa serbuan propaganda itu merupakan fitnah beragama terbesar yang menimpa umat islam di akhir zaman. Sabda beliau sebagaimana diceritakan sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman (shohibis sirr):

دُعَّاةٌ عَلىَ اَبْوَابِ جَهَنّمَ، مَنْ اَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا، قُلْتُ: صِفْهُمْ لَنَا: قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِاَلْسِنَتِنَا، قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِى اِنْ اَدْرَكنَىِ ذَلِكَ؟  تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ، قُلْتُ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا اِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقِ كُلِّهَا وَلَوْ اَنْ تَعَضَّ بِاَصْلِ شَجَرَةٍ حَتّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَاَنْتَ عَلَى ذَلِكَ  - رواه البخارى و مسلم
Ada orang-orang yang menyeru ke neraka jahanam barang siapa menyambut seruan mereka, maka dia akan dilemparkan oleh mereka ke neraka jahanam. Aku (hudzaifah) bertanya, “terangkanlah kepada kami ciri-ciri mereka”. Beliau bersabda,”mereka sekulit dengan kami dan lisannya berdalih dengan dalih kami (Al Qur’an dan Hadits). “apa yang engkau perintahakan bila kami menjumpai hal itu.?” “kamu harus bergabung dengan jamaatul muslimin berikut imamnya”. “bila mereka tidak memiliki jamaah dan tidak juga memiliki imam ?”. “tanya Hudzaifah mengantisipasi. Beliau bersabda, “berlepaslah kamu dari semua kelompok (para penyeru) itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati.”(H.R. Bukhari muslim)
Propoganda ke neraka jahannam tersebut menjadi fitnah beragama yang terbesar didinding fitnah-fitnah beragama sebelumnya karena fitnah ini: 1) mampu menyerang langsung ke pusat sistem kepercayaan umat Islam. 2) aslinya bukan datang dari dalam Islam tapi dari luar Islam lalu diselundupkan secara paksa pada Islam (sekularisasi misalnya adalah berasal dari gerakan dalam agama Kristen). Dan 3) itu terjadi di saat kaum muslimin di dunia mengalami perpecahan karena tidak adanya insintusi Daulah Islamiyah.

Tidak Terperosok pada Lubang yang Sama Dua Kali

Melanjutkan tradisi Islam di masa-masa kerajaan, tokoh-tokoh umat Islam yang mendirikan negara Indonesa telah berusaha meletakkan dasar-dasar bernegara yang baik bagi negeri ini yang juga telah disetujui oleh kelompok-kelompok lain. Dasar-dasar bernegara itu seperti: “negara berdasarkan atas ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya (selanjutnya disebut Piagam Jakarta),” “presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam,” dan digunakannya kata”mukaddimah”bukan”pembukaan” atau “preambule”. Dasar-dasar ini telah dirumuskan pada sidang-sidang BPUPKI yang alot pada bulan juni 1945.
Piagam Jakarta sebagai kompromi politik ditandatangani 9 orang, yaitu Sukarno, Hatta, Maramis (kristen), Abikusno Cokrosuyoso (Syarikat Islam), Haji Agus Salim (Islam), Ahmad Subarjo, Abdul Kahar Muzakkir (Muhammadiyah), Abdul Wahid Hasyim (NU), dan Muhammad Yamin. Namun, pada sidang PPKI tanggal 8 Agustus 1945, Piagam jakarta dicoret, sekaligus disusun pula rumusan apapun yang berbau Islami.
Pada peristiwa pencoretan itu tidak ada satupun wakil Islam yang menandatangani piagam jakar diundang, kecuali Abdul Wahid Hasyim. Itu pun putra KH.Hasyim Asy’ari yang waktu itu baru berusia 32 tahun ini tidak hadir karena dalam perjalanan pulang ke Jawa Timur. (Piagam Jakarta,Endang Saifudin Anshari:52). Sementara wakil umat Islam yang hadir dalam sidang PPKI adalah Ki bagus Hadikusumo (Muhamadiayah), Kasman Singodimejo (Muhammadiyah,komandan PETA), dan M. Hasan (Aceh). Kasman Singodimejo diundang baru pagi hari itu. Ketiganya diminta dengan sangat dan bujuk rayu oleh hatta untuk toleransi dan berkorban (mencatat piagam jakarta) demi keutuhan bangsa dan agar kaum kristen tidak merasa di diskriminasi (Dosa-dosa politik,Firdaus A.N: 71)
Awalnya bermula dari opsir jepang.la sore hari,tanggal 17 agustus 1945, mendatangi Hatta dan membawa pesan dari orang-orang Katholik dan Protestan di Indonesia bagian Timur bahwa mereka keberatan dengan dasar-dasar negara yang berbau Islami. Bila diteruskan juga apa adanya, maka mereka mengancam lebih suka berdiri di luar negara Indonesia. Atas dasar ini bencana pencoretan itu berawal. Padahal siapa nama opsir itu Hatta tidak mengenal dan bagaimana opsir Jepang ini begitu cepat membawa pesan dari kawasan Indonesia bagian timur, sedang baru beberapa jam saja proklamasi dibacakan, ini juga patut dipertanyakan. Pencoretan Piagam Jakarta yang tergesa-gesa sesungguhnya syarat dengan gerak tipu dan penelikungan terhadap umat Islam. Umat Islam ditinggalkan.Pencoretan Piagam Jakarta juga sarat dengan gertakan dan ultimatum dari kalangan Kristen dan Jepang. Umat Islam menjadi korban dari toleransi dan ketidaktegasannya. Pada saat itu terjadilah apa yang disebut kapitulasi, yaitu penyerahan kalah ummat Islam kepeda musuh-musuhnya.
 Ketika proses awal negeri ini buram maka akhirnya buramlah proses-proses berikutnya hingga kini. Peristiwa itu adalah sejarah. Jangan lupakan sejarah. Kenali sejarah itu agar tidak terjadi pengulangan kesalahan dua kali pada tempat yang sama.
Proses pengesahan UU Sisdiknas beberapa waktu lalu rasanya juga hendak mengulang peristiwa Piagam Jakarta, sarat dengan ultimatum pada penelikungan yang akan berakhir kerugian, kalau saja umat Islam tidak tegas mengawalnya. Orang beriman tidak boleh tersengat dalam satu lubang dua kali. Sabda Rasulullah saw:


لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ حِجْرٍ وَاحِدٍ مَرّتَيْنِ  -  رواه البخارى ومسلم
Orang beriman tidak tersengat dua kali dalam satu lubang. (HR. Bukahari Muslim)
Mewaspadai Kolaborasi Manusia Dan Setan
Di dalam gerakan penyesatan, setan biasa mengambil rekanan dari kalangan manusia. Setan mengeluarkan bisikan-bisikan jahatnya kepada manusia. Setelah manusia terperangkap bisikan setan, maka jadilah dia sebagai mitra kerja setan. Apa yang keluar dari lidah manusia itu kemudian adalah suara setan. Apa yang dilakukannya itu lalu adalah kelakuan setan. Ia ibarat menjadi perantara (makelar) setan dalam menyesatkan manusia, walaupun tanpa dia sadari. Karena bisikan jahat setan sifatnya halus dan samar. Allah swt berfirman:

Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. (Q.S. An-Naas: 4-6)
Dengan kolaborasi (kerja sama) setan dan manusia ini, program penjerumusan manusia ke neraka tampak berjalan mulus. Hal ini terbukti dengan dijumpainya sekian banyak penyeru (propagandis) ke neraka jahanam yang justru berasal dari dalam komunitas kaum muslimin sendiri, berstatus tokoh, dan fasih dalam mempergunakan dalil-dalil agama. (walau tidak pada tempatnya), sebagaimana prediksi Rasulullah saw di atas.
Mengenai pengaruh bisikan-bisikan jahat setan, tingkatan manusia berbeda-beda. Ada yang sedikit saja dari jiwanya telah dipengaruhi setan, ada yang separuhnya, dan ada yang seluruh jiwanya telah dikuasai setan.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyimpulkan bentuk-bentuk kejahatan bisikan setan menjadi enam tingkatan (dimulai dari tingkatan yang terberat), yaitu:
1)      jahatnya kekufuran dan syirik (syarrul kufri was syirki). Kejahatan ini adalah yang paling dikehendaki oleh setan dari manusia, karena kekufuran dan syirik menutup manusia dari masuk surga.
2)      Jahatan perilaku bid’ah (syarrul bid’ah). Perilaku bid’ah menjadi pintu masuk bagi kekufuran dan syirik. Bahaya bid’ah hakikatnya adalah bahaya bagi agama. Ia bahaya yang dapat menjalar ke mana-mana. Ia dosa yang bertaubat di dalamnya sulit diterima.
3)      Dosa-dosa besar (al-kabair) dengan segala ragam dan jenisnya. Setan sangat loba di dalam menjatuhkan manusia pada dosa-dosa besar, apalagi bila  manusia itu statusnya adalah orang alim nan ahli ibadah. Kita bisa memperhatikan kisah Barsesa.
4)      Dosa-dosa kecil (ash-shaghair). Kadangkala setan menggoda manusia agar melakukan dosa-dosa kecil sampai manusia itu memandang remeh dosa-dosa kecil itu. Sementara dosa-dosa kecil bila dilakukan terus-menerus dan dipandang remeh jadilah ia bahaya yang besar. Orang yang berbuat dosa besar sekali dan ia menyesali lebih  baik daripada orang yang biasa melakukan dosa kecil dan ia memandang ringan kelakuannya itu. Dosa kecil bila berhimpun maka ia akan berubah menjadi dosa besar.
5)      Kesibukan manusia dengan hal-hal mubah yang tidak ada pahala dan dosa di dalamnya. Waktunya diarahkan setan agar berlalu sia-sia, tanpa ada pahala di dalamnya.
6)      Kesibukan manusia dengan kegiatan-kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak untuk dilakukan, sementara ada kegiatan-kegiatan yang bernilai afdhol (mendesak dan penting).
Bila manusia melakukan enam hal di atas dengan segala tingkatannya, hal itu merupakan petunjuk bahwa bisikan jahat setan (yang selalu bekerja sama dengan manusia) telah menguasai dirinya dengan segala tingkatannya. Hati dan pikirannya dikendalikan setan. Kita berlindung kepada Allah dari bisikan-bisikan jahat setan.
Menghadapi kolaborasi setan dan manusia dalam program penyesatan, kita harus bersikap mawas diri dan berhati-hati di samping harus meningkatkan ketajaman firasat yang kita ikatkan dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan syariat Islam. Firman Allah swt :
žSesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was (bisikan jahat) dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Q.S. Al-A’raaf: 201)

           

Senin, 28 Mei 2012

ماذا نقدم لغد ؟


 
Taushiyah Vol VIII Edisi 91

Alloh Swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al Hasyr: 18)

Berkaitan dengan momentum tahun Baru Hijriyah yang disebut-sebut banyak orang sebagai momentum introspeksi dan momentum kebangkitan,mari kita renungkan  petikan ayat di atas yang berbunyi:

dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);
 Ayat ini bermakna seruan kepada kita masing-masing unutk memperhatikan apa yang telah kita perbuat di dunia hari ini untuk hari esok,yaitu kehidupan di akhirat.Perbuatan untuk hari akhirat dijadikana ukuran karena akhiratlah kehidupan yang hakiki (al hayawan) ,sementara dunia adalah kehidupan yang fana yang diciptakan justru sebagai ladang amal menuju akhirat..Alloh swt berfirman:

 Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(QS at Taubah:20)

Ayat ini menggambarkan generasi Islam pertama,yaitu para sahabat Rodliyallohu ‘anhum,yang telah menyuguhkan perbuatan-perbuatan terbesar di dunia untuk hari esok.yaitu iman,hijrah dan jihad.Mereka beriman di tengah dominasi syirik dan kekufuran.Dan  alangkah banyaknya ujian yang berat atas keimanan mereka saat itu.Mereka juga berhijrah demi untuk menguji,mengokohkan,dan mensyiarkan keimanan.Dan betapa berat sejarah perjalanan hijrah itu.Keimanan dan hijrah itu mereka padu pula dengan jihad,yaitu perjuangan (peperangan) untuk membela dan menyebarluaskan syiar agama Islam,dengan merelakan harta benda sekaligus dengan merelakan nyawa mereka.Peperangan-peperangan besar mereka lewati bersama dengan Rosululloh saw.Itu belum termasuk peperangan-peperangan/ekspedisi-ekspedisi (sariyah) yang mereka lakukan tanpa Rosululloh saw.
Atas dasar perbuatan-perbuatan besar yang telah di persembahkan tersebut,generasi sahabat mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari Alloh swt (seperti diabadikan di dalam banyak ayat-ayat suci Al Quran) dan bahkan penghargaan dari kaum muslimin hingga saat ini.
Pertanyaannya sekarang: ……
ماذا نقدم لغد  ؟
Jika para sahabat telah menyuguhkan perbuatan-perbuatan yang istimewa tersebut,maka sekarang perbuatan-perbuatan apa yang telah kita persembahkan bagi kehidupan akhirat kita kelak?
Dalam sebuah hadis sohih yang terkenal,Rosululloh saw bersabda:

لا هجرة بعد الفتح ولكن جهاد ونية  - رواه البخارى
Tidak ada hijrah setelah fathu Makkah,tetapi yang tetap ada adalah  (hijrah disebabkan) jihad dan niat (yang baik) HR Bukhori

Ungkapan “Tidak ada hijrah setelah fathu Makkah” dalam hadis ini menunjukkan bahwa hijrah yang bernilai seperti nilai hijrahnya para sahabat Rosululloh saw sudah tidak ada lagi.Tidak ada lagi hijrah setelah terbukanya kota Makkah yang nilainya sama dengan hijrah yang dilakukan generasi Islam pertama sebelum fathu Makkah.Ungkapan tersebut juga menggambarkan bahwa apa yang telah dilakukan para sahabat dengan hijrah itu merupakan hal yang tidak bisa ditandingi di masa-m,asa berikutnya.
Seandainya ungkapan dalam hadis itu tidak diikuti oleh ungkapan:

ولكن جهاد ونية 

Niscaya tertutup bagi kita pintu apapun untuk melakukan hijrah atau hal-hal yang berkaitan dengan hijrah yang dilakukan para sahabat.”Lakin” ( لكن ) Adalah huruf istidrok ( حرف استدراك )Yang bermakna menyusuli ucapan sebelumnya.Dengan demikian Rosululloh saw masih membuka peluang bagi kita semua untuk melakukan hal yang bernilai luhur,walaupun tentunya tidak dapat menyemai nilai luhur para sahabat.Hal yang bernilai luhur yang menjadi peluang bagi kita semua untuk memasukinya ada dua,yakni jihad dan niat.
Dua peluang inilah yang mesti kita masuki dan kita rebut,untuk kita persembahkan sebagai bekal bagi kita pada kehidupan esok hari.Pertama,jihad.Untuk jihad,tentunya diperlukan semangat,latihan-latihan dan tempaan /pembinaan (kaderisasi).Jihad bahkan juga memerlukan koordinasi dan komando.Disinilah pentingnya berjamaah dan pentingnya pembinaan.Kedua,niat,yakni niat yang baik.Ada dua kategori niat yang baik,yaitu 1) mencari ilmu dan menyebarkannya,serta 2) berdakwah.Ilmu adalah kehidupan Islam.Bisa dibayangkan bagaimana keberadaan kaum muslimin bila mereka dibiarkan tanpa ilmu.Sementara berdakwah,tidak ada tugas yang lebih baik daripadanya,karena ia menjadi misi utama para Rosul.
Ilmu dan dakwah adalah faktor penting yang bisa menghidupkan hati dan jiwa kita,sementara hal-hal yang yang bisa menghidupkan hati dan jiwa yang diserukan oleh Alloh swt dan Rosululloh saw,kita diperintahkan untuk menyambutnya (istijabah).Hidupnya hati dan jiwa merupakan modal kebahagiaan hidup kita di dunia dan di akhirat.
Alloh swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS al Anfal: 24)

Dengan mencari dan menyebarluaskan ilmu serta berdakwah inilah semangat dan ghiroh melakukan jihad tumbuh dan berkembang.Semangat dan ghiroh jihad tidak akan lahir sekonyong-konyong / tiba-tiba.Semangat dan ghiroh itu hanya bisa lahir melalui proses panjang,yaitu pembinaan dan kaderisasi.Para sahabat siap berjihad di medan Badar,Uhud,Khondaq,tentu tidak lepas dari kaderisasi lama yang mereka terima dari Rosululloh saw.Dengan demikian ada hubungan yang kuat antara jihad dan niat,dan sebaliknya antara niat dan jihad.
Pada kenyataannya,saat ini kita mendapati ruh jihad kaum muslimin di sekeliling kita bahkan dimana- mana kendor dan lemah.Hal ini tidak terlepas dari pemahaman-pemahaman yang buruk dan propaganda-propaganda busuk mengenai jihad yang sudah melekat pada jiwa.Jihad dimaknai sekedar bekerja secara sungguh-sungguh.Ada pemahaman menyatakan,jihad tidak hanya perang.Ada jihad di bidang ekonomi,politik dan sosial.Bekerja mencari nafkah bahkan juga adalah jihad.Jihad terbesar justru adalah melawan nafsu yang ada pada diri masing-masing orang.Inilah pemahaman-pemahaman yang menjadikan kendornya ruh jihad.Lemahnya ruh jihad juga diakibatkan propaganda yang demikian deras dari musuh-musuh Islam.Mereka mempropagandakan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan santun,tidak menyukai kekerasan dan senjata,serta Islam adalah rohmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).Padahal,Islam membawa rahmat bagi semesta alam dengan cinta kasih dan kedamaian sekaligus dengan ketegasan dan keperkasaan.Ketegasan dan keperkasaan Islam adalah rahmat sebagaimana cinta kasih dan kedamaiannya juga adalah rahmat.
Di sisi lain,kita mendapati sebagian orang memaknai dan melakukan jihad secara salah.Mereka meneror non muslim dengan bom-bom,menghancurkan tempat-tempat domisili mereka,atas nama jihad.Tindakan ini tentu merusak makna jihad yang demikian mulia dan luhur.
Saat ini kita juga mendapati kenyataan bahwa niat yang baik untuk mencari ilmu,menyebarluaskan ilmu dan berdakwah juga kendor dan melemah sebagaimana kendor dan melemahnya ruh jihad.Minat terjun dan menekuni ilmu berkurang.Banyak orang merasa kenyang / puas/ pintar diri dari ilmu sehingga berhenti atau enggan belajar.Sayyidina Ali bin Abi Tholib menyatakan:

ما ازددت علما الا ازددت حهلا
Aku tidak bertambah ilmu kecuali aku bertambah bodoh

Dalam hikmah dinyatakan:

عرفت شيئا و غابت عنك الاشيا ء
Engkau mengetahui sesuatu yang sedikit,sementara lepas darimu sesuatu yang banyak.

Kalau pun ada yang tekun mencari ilmu,maka hal yang dikejar hanya ijazah dan gelar.Ilmu dan dakwah tidak mendapatkan respon.Susah orang diajak mengaji dan diseur baik.Orang makin berpikir nafsi nafsi alias individualis.Kita bisa membandingkan minat anak-anak yang belajar di pesantren dan madrasah-madrasah dengan minat anak-anak yang belajar di lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan gelar dan peluang kerja.Kita bisa membandingkan pula sepinya majelis-majelis ilmu dan ramainya forum-forum bisnis,kemaksiatan dan foya-foya.
Di saat seperti ini,di tambah dengan dominannya penyakit al-wahan yang menimpa kaum muslimin,lengkap dengan gaya matrealistik dan individualistik,tentu,kedudukan jihad dan niat menjadi penting artinya,sangat luhur dan amat mulia.Lahir dan berkembangnya kader-kader yang memiliki ruh jihad yang tinggi dan kader-kader yang memiliki niat yang tulus dalam mencari ilmu,menyebarluaskannya,dan  niat tulus di dalam berdakwah ilalloh,dengan demikian menjadi sangat penting dan semakin penting.Peran yang mulia dan luhur.Oleh karena itu kembali kita ingatkan,semangat belajar,ruh jihad,dan jalannya pembinaan melalui halaqoh-halaqoh jangan pernah mati dan berhenti.Harus terus kita lestarikan.ISLAM ADALAH AGAMA DAKWAH DAN JIHAD
Mudah-mudahan jihad dan niat itu semua dapat menjadi bekal yang bisa dipersembahkan untuk (kebahagiaan) hari esok.Aamiin
Wallohu A’lam                                                           6 Maret 2005 M
25 Muharrom 1426 H