Tampilkan postingan dengan label Dzikroyat wa Munasabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikroyat wa Munasabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Diantara Hikmah-Hikmah Haji



Taushiyah Vol VIII Edisi 89
من اسرارالحج

 لَبَّيْكَ اللّهُمّ لَبّيْك ,لَبَّيْكَ لَاشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيكْ ,ِانّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ,لَا شَرِيْكَ لَكْ
“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji bagi-Mu, segala nikmat, dan segala kekuasaan milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”. ( Lafadz Talbiyah )
                Di bulan Dzulqo’dah ini, kita menyaksikan sebagian saudara-saudara kita menunaikan ibadah haji, bergabung dengan lebih dari satu juta calon jamaah haji dari berbagai penjuru dunia tahun ini. Seperti diketahui, rangkaian bulan-bulan haji itu tiga bulan, yaitu Syawal,Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah.

Minggu, 21 Oktober 2012

Uji Kelulusan Manusia



Taushiyah Vol  VI Edisi 65

 
          Hari raya Idul Adha dan ibadah haji merupakan momentum pengabdian kebesaran Nabiyulloh Ibrohim as beserta keluarga yang mampu lulus secara mengesankan dari berbagai ujian (tes) pengabdian dan penghambaan.Pada kisah pengorbanan,beliau diuji membunuh puteranya,dan lulus,padahal naluri seorang ayah adalah cinta kepada anaknya.Begitu pula Nabiyulloh Isma’il as,diuji dengan “dibunuh”,dan lulus,padahal naluri manusia adalah cinta terhadap dirinya.

Kelulusan dari ujianpengorbanan ini melengkapi kelulusan ujian-ujian lain yang diberikan kepada beliau,seperti membangun Ka’bah,membersihkan Ka’bah dari kemusyrikan,menghadapi Raja Namrudz,dan sebagainya.Firman Alloh swt:

“Dan Ingatlah ketika Ibrohim di uji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan),lalu Ibrohim menunaikannya dengan sempurna”.(QS.Al-Baqoroh;124)

Rabu, 18 Juli 2012

Puasa, Terapi Lemahnya Irodah & Maksimalisasi Mauhibah


 ]...كما كتب على الذين من قبلكم [
       قال الله تبارك وتعالى :
       ] يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّـيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَـتَّقُوْنَ . أَيَّامًا مَّعْدُوْدَاتٍ [ البقرة : 183 – 184.
قوله ] كما كتب على الذين من قبلكم [
فيه أغراض ثلاثة تضمنها التشـبيه :
1.      الإهتمام بهذه العبادة لأنها شرعها الله قبل هذه الأمة وذلك يقتضى اطراد صلاحها ووفرة ثوابها وإنهاض همم الأمة لتلقـيها كي لا يتميز بها من كان قبلهم قال الله تعالى ] وَفِى ذَلِكَ فَلْيَتَـنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ [ المطففين : 26.
2.      التهوين على المكلفين بهذه العبادة حتى لا يستثـقلوها وقد أكّد هذاالمعنى  قوله بعده " أياما معدودات "
3.      إثارة العزائم للقيام بهذه العبادة حتى لا يكونوا مقصرين فى قبولها بل ليأخذوها بقوة تفوق ما أدى به الأمم السابقة .
وفى هذا نموذج من أسلوب القرآن الكريم فى علاج ضعف إرادة المسلم لأن المسلم الواعى من شأنه أن يحقق نجاحا عمليـا حسب موهبة الله له مادام يمثـلها فى إخلاصه وجده ودأبه يتقرب بها فاعلها لابتغاء مرضاته موقـنا بقوله تعالى ] الَّذِى خَلَقَ فَسَوَّى . وَالَّذِى قَدَّرَ فَهَدَى [ الأعلى : 2 – 3 .
 وفى هذا يقول سيدنا على رضي الله عنه : ( قِيْمَةُ كُلِّ امْرِئٍٍ مَا يُحْسِنُ ) فقيمة العالم علمه  قل منه او كثر وقيمة الشاعر شعره أحسن فيه او أساء . وكل صاحب موهبة او حرفة إنما قيمـته تلك الموهبة او تلك الحرفة ليس إلا , فليحرص المسلم على أن يرفع قيمته  ويغلي ثَمـنه بعمله الصالح ولا يحزن إن قلّ ماله او رثّ حاله فقيمـته شيء آخر .
وفشل الإنسان فى نجاح عمله من ضعف إرادته وهلعـه ولذلك قال تعالى ] إِنَّ اْلإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا . إِذَا مَسَّـهُ الشَّـرُّ جَزُوْعًا . إِلاَّ الْمُصَلِّيْنَ الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ دَائِمُوْنَ [ المعارج : 19 – 22 . وقال تعالى ]  وَلاَ تَيْأَسُوْا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لاَ يَيْـأَسُ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ [ يوسف : 87 . وقد قيل :
لا َتَحْسَبِ الْمَجْدَ تَمْرًا أَنْتَ آكِلُهُ  #  لاَ تَبْلُغُ الْمَجْدَ حَتىَّ تَلْعَقَ الصَّبِرَا
 - والله يتولى الجميع برعايته -



Bismillaahirrohmaanirrohiim

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Puasa, Terapi Lemahnya Irodah &
Maksimalisasi Mauhibah


Alloh tabaroka wata’ala berfirman: (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.( yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu…)QS al Baqoroh : 183 – 184 .
Firman Alloh (…sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kalian )
Di sini ada tiga tujuan yang terkandung dalam ungkapan menyerupakan / Tasybih  ( sebagaimana…) :

1.                   Memperhatikan serius ( Ihtimam ) ibadah ini ( puasa ) karena keberadaannya yang telah disyariatkan Alloh sejak sebelum umat ini di mana hal tersebut memunculkan konsekwensi  dilaksanakannya ibadah ini dengan baik, kesempurnaan pahalanya dan membangkitkan semangat umat ini untuk menyambutnya  supaya ibadah ini tidak hanya menjadi keistimewaan umat - umat terdahulu. Alloh berfirman (  dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba ) QS al Muthoffifin : 26 .  

2.                   Memberikan kemudahan ( Tahwiin ) ibadah ini kepada orang – orang mukallaf ( al Mukallafin ) agar mereka tidak merasa berat. Makna ini dikuatkan ( tersiratkan ) dalam firmanNya “ …dalam beberapa hari tertentu “

3.                   Mengobarkan semangat dan tekad bulat ( Azimah - Azaim ) untuk melakukan ibadah ini sehingga mereka tidak teledor menerimanya, tetapi sebaliknya mengambil ibadah ini dengan kekuatan melebihi apa yang telah dilakukan oleh umat - umat terdahulu.

Di sini ada sebuah contoh metode  / uslub Alqur’an al Karim  dalam memberikan terapi terhadap lemah Irodah  ( yang menjangkiti ) seorang muslim. Sebab sesungguhnya seorang muslim yang terbina semestinya mampu menghasilkan sebuah karya nyata sesuai bakat alamiah yang diberikan Alloh ( Mauhibah ) dengan catatan Mauhibah itu ia wujudkan dengan ikhlash, bersungguh - sungguh dan konsisten dalam rangka mendekat dan mencari ridho Alloh dengan satu keyakinan seperti firmankan olehNya,   Dzat yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk   QS al A’laa : 2 - 3 .

Terkait dengan ini, Sayyidina Ali ra mengatakan: “  Nilai diri seseorang adalah profesionalitas yang ia miliki  “ maka nilai diri orang berilmu adalah ilmunya, sedikit atau banyak ilmu itu. Nilai diri seorang penyair adalah syairnya, baik atau jelek  syair itu. Jadi nilai diri semua orang adalah Mauhibah atau aktivitas rutin ( Hirfah ) yang ia miliki, bukan yang lain. karena itulah seorang muslim hendaknya bersemangat kuat meninggikan nilainya dan menjadikan mahal harga dirinya dengan amal saleh serta tidak usah merasa resah betapapun ia sedikit harta atau dalam keadaan susah ( secara ekonomi ). 

Kegagalan manusia dalam menghasilkan sebuah karya nyata disebabkan oleh lemah kemauan ( Dhu’ful Irodah ) dan banyak  mengeluh. Karena itu Alloh berfirman, “ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.  Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat dengan rutin.( Daa’imun) “ QS al Ma’arij : 19 - 22 . Alloh berfirman: … dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir " QS Yusuf : 87. dan dikatakan:

Jangan menyangka kemuliaan adalah kurma yang hanya kamu rasakan lezat memakannya. Kamu tidak sampai pada kemuliaan sehingga (terlebih dahulu ) menjilat buah Jadam

- والله يتولى الجميع برعايته -

Senin, 25 Juni 2012

Hijrah, Merajut Keretakan, dan Mengefektifkan Dakwah Melalui Jalur Masjid


 


Taushiyah Vol VII Edisi 74
 Rosululloh saw bersabda:

لَآهِجْرَة َبَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ  (رواه البخارى)
Tidak ada hijrah setelah terbukanya kota Makkah,tetapi (hijrah yang ada) ialah jihad dan niat (HR.Bukhori)

Hijrah Rosululloh saw bersama sahabat dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam.Hijrah menjadi titik tolak terbentuknya daulah Islam yang pertama di muka bumi.Hijrah merupakan deklarasi berdirinya Negara Islam di bawah pimpinan baginda Nabi Muhammad saw.Hijrah menjadi awal kelapangan yang dijanjkan Oleh Alloh bagi kaum muslimin.Peristiwa akbar ini mempersembahkan segenap potensi keimanan para pelakunya.Dari tenaga,harta,keluarga hingga darah yang tidak ada bandingannya hingga kini.Kholifah Umar bin Khotthob karenanya menjadikan hijrah sebagai pangkal dimulainya penanggalah hijrah sebagai kalender Islam.
Hadis shohih di muka menyatakan bahwa hijrah berhukum wajib yang bersejarah itu telah berakhir dengan dibukanya kota Makkah.Akan tetapi,hijrah dalam bentuk jihad dan niat akan tetap lestari sepanjang masa.Jihad untuk menyebarluaskan syiar agama. Niat yang tulus untuk menuntut ilmu,niat membatasi keinginan hawa nafsu,niat yang kokoh untuk mengangkat kehidupan ummat dan sebagainya merupakan bagian dari hijrah.Hijrah dalam bentuk jihad dan niat inilah pola hijrah yang harus kita tumbuh kembangkan melalui wadah jamaah ini.
Ketika pertama tiba di kota Madinah,beliau Rosululloh saw meletakkan asas-asas penting bagi berdirinya Negara Islam dan masyarakat muslim.Diantara asas itu adalah membangun masjid dan ta’aakhi (mempersaudarakan sesama kaum muslimin)
Masjid merupakan asas utama dan terpenting bagi pembentukan masyarakat muslim.Masyarakat muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali dengan komitmen terhadap tatanan aqidah Islam.Dan hal ini dapat ditumbuhkan melalui semangat masjid.Di rumah-rumah Alloh swt ini berkali-kali kaum muslimin bertemu.Mereka menata shof yang rapi ketika menghambakan diri kepada Alloh swt.Mereka mengikatkan diri kepada satu hukum Alloh swt.Mereka juga merajut kebersamaan.Perbedaan-perbedaan pangkat,kedudukan,kekayaan,status dan atribut social lainnya terhapuskan.Egoisme dan keangkuhan yang bersemayam pada diri masing-masing tertundukkan.Dengan semangat masjid terciptalah persaudaraan antar mereka yang selanjutnya menumbuhkan solidaritas dan kekuatan.
Atas dasar ini,setiap anggota jamah dakwah hendaknya bergaul secara akrab dengan masjid,khususnya masjid di wilayahnya masing-masing.Rumah Alloh ini tidak boleh dijauhi dan disia-siakan.Dengan aktif dimasjid akan banyak hal yang bisa dilakukan ,uatamanya terkait dengan dakwah bil hal.Di masjid dakwah akan efektif dan optimal.
Rosululloh saw menjamin bahwa orang yang selalu akrab dengan masjid pasti memiliki rasa keimanan.Sabda Rosululloh yang diceritakan dari Sahabat Abu Said Al Khudri menyatakan:

Jika kamu melihat seseorang membiasakan diri pada masjid maka persaksikanlah bahwa dia memiliki keimanan.Alloh azza wajalla berfirman:“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian,” (QS At Taubah: 18) HR Tirmidzi.

Selain membangun masjid,asas penting lain yang diletakkan Rosululloh saw pertama setibanya di Madinah adalah ta’aakhi,yakni membuat persaudaraan antara kaum muhajirin dan kaum Anshor,setelah ta’aakhi pertama,yaitu mempersaudarakan antar kaum muhaajirin di Makkah.
Sahabat Abdulloh bin Salam menceritakan ketika baru tiba di Madinah Rosululloh saw disambut semarak oleh kaum muslimin.Mereka berebutan mendekati beliau.Dan petuah yang beliau sampaikan pertama pada waktu itu,sebagaimana didengar oleh Abdulloh bin Salam adalah:

يَااَيُّهاَ النَّاسُ اَفْشُوْا السَّلاَمَ، وَاَطْعِمُواالطّعَامَ، وَصِلُواالْاَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِالسَّلَامِ   -  رواه الترمذى
Wahai segenap manusia,tebarkanlah salam,berikanlah makanan,jalinlah kekerabatan dan sholatlah (di malam hari) kala manusia tidur.Niscaya kalian akan masuk surga dengan sentosa. (HR Tirmidzi)

Ungkapan beliau pertama di Madinah ini memiliki makna penting bagi tegaknya prinsip-prinsip ta’aakhi.Seruan menebarkan salam,memberikan makanan,dan menjalin kekerabatan merupakan unsur-unsur perekat persatuan.Hal-hal itu diyakini dapat menghilangkan egoisme dan keangkuhan.Mendekatkan jarak perbedaan.Menjalin komunikasi.Meredam tersebarnya bibit permusuhan dan kebencian.Sedang sholat malam berfaidah menjernihkan hati,menanggalkan egoisme dan keangkuhan.Hati yang bening akan mudah disatukan.Adapaun hati yang kotor akan sulit bahkan mustahil dipertautkan.Hati yang kotor nan keras merupakan kendala berjamaah.
Dengan tegaknya asas ini,kaum muslimin yang asalanya bercerai-berai dengan sekian banyak fanatisme kelompok dan kesukuan seperti Aus dan Khozroj,petani dan politikus,serta pedagang dan bangsawan terajut dalam bingkai persatuan dalam satu keluarga besar yang penuh dengan solidaritas.Hal ini didukung karena pada diri mereka telah tertanamkan terlebih dahulu keimanan yang mendalam,jihad yang sungguh-sungguh,serta niat yang tulus dan lurus.Tidak ada kepentingan individual yang menonjol kecuali kepentinagn dakwah dan mengangkat Islam secara bersama-sama dengan lega hati.Fenomena ini direkam oleh Al Quran:

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; QS Ali Imron 103

Negara manapun tidak akan tegak tanpa kesatuan dan dukungan ummatnya.Sedang kesatuan dan dukungan tidak akan lahir tanpa adanaya saling bersaudara dan saling mencintai.Setiap jamaah yang tidak disatukan oleh ikatan kasih sayang dan persaudaraan yang sebenarnya tidak akan mungkin dapat bersatu pada  suatu prinsip.Selama persatuan yang sebenarnya tidak terwujudkan dalam suatu ummat atau jamaah,maka selama itu pula tidak akan mungkin terbentuk sebuah Negara atau jamaah yang kokoh.
Persaudaraan  haruslah didahului oleh akidah yang menjadi ideologi dan faktor pemersatu.Persaudaraan antara dua orang yang berbeda akidah dan pemikiran adalah mimpi dan khayalan.Apalagi bila akidah atau pemikiran itu melahirkan  perilaku tertentu dalam kehidupan nyata.
Dalam melihat peristiwa hijrah kita melihat kepiawaian Rosululloh saw.Beliau menjadikan aqidah Islamiyah yang bersumber dari Alloh swt sebagai asas persaudaraan yang menghimpun hari para sahabatnya dan menempatkan semua manusia dalam satu barisan ubudiyah kepada-Nya tanpa perbedaan apapaun kecuali ketaqwaan dan amal sholeh.Persaudaraan,saling tolong menolong,dan saling mengutamakan tidak mungkin dapat berkembang diantara orang-orang yang dipecah belah oleh akidah,pemikiran dan kepentingan yang beraneka ragam.Fakta yang dominan terjadi justru adalah sikap memperturutkan egoisme dan hawa nafsunya sendiri-sendiri.
Setelah masjid,agaknya asas ini mendesak untuk diresapi oleh anggota jamaah.Antar jamaah hendaklnya menampakkan kasih sayang yang sesungguhnya.Satu jamaah dituntut memperlakukan jamaah lain sebagai saudaranya.Dengan begitu,jamaah akan bergerak kuat.Keadilan dan kesentosaan akan meliputi segenap anggotanya.Dalam hal ini hanya bisa dicapai ketika faktor akidah dan hati dikedepankan.Niat yang lurus diutamakan.Jauh dari kepentingan dan motivasi individual.Karena bila kepentingan dan motivasi individual dikedepankan maka sampai kapanpun tegaknya jamaah yang ideal tidak akan terjadi.
Ibarat penumpang disatu gerbong kereta api.Mereka kelihatan bersatu dalam satu gerbong.Tapi sesungguhnya mereka bercerai-berai karena masing-masing memiliki kepentingan-kepentingan individu dengan segala egoisme dan keangkuhannya.Mereka hakikatnya tidak berjamaah namun sekedar bergerombol.
Bila kita telah diikat oleh satu sistem berjamaah  dan didalamnya kita justru memilih bercerai-berai ,menampakkan permusuhan dan kebencian,serta mengedepankan egoisme dan kengkuhan,hal ini jangan-jangan merupakan sikap kita menukar nikmat Alloh dengan niqmat atau adzab-Nya.Karena ukhuwwah adalah nikmat sedang berpecah belah adalah adzab.Kita telah memilih berpindah dari satu keberkahan kepada kemungkaran yang tidak ada baiknya sama sekali.
Tujuan kita menegaakan daulah Islamiyah bersama dengan bangkitnya ummat Islam melaksanakan ajaran agamanya dengan trjadinya perceraian itu dengan demikian akan semakin sulit dicapai,bahkan terancam gagal.Ibarat serombongan penumpang menyeberang dari Tanjung Perak ke Pulau Madura dengan kapal Feri.Tujuan sampai ke pulau Madura tidak akan tercapai karena feri itu ternyata telah pecah sedari awal berangkatnya akibat keretakan yang terjadi di dalamnya.Na’udzubillah.
Maka,keretakan harus kita rajut.Yang terserak harus kita kumpulkan.Yang tercecer harus kita wadahi.Masing-masing dengan mengedepankan hati nurani yang bening.Pada saat yang sama,kita efektifkan dan optimalkan dakwah melalui jalur masjid sebagai manifestasi menteladani semangat hijrah Rosululloh saw.


Selamat Tahun Baru Hijriyah 1424 H
Di sampaikan di Surabaya,I Muharrom 1424 H – 4 Maret 2003
Pujon,Kamis 25 Dzulhijjah 1424 H – 27 Februari 2003 M.