Tampilkan postingan dengan label TSAQOFAH (Dakwah). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TSAQOFAH (Dakwah). Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

Bagaimana Manghargai Pendapat Orang Lain

Taushiyah Volume VIII Edisi 80



 Mengawali pembahasan ini,ada sebuah kisah.Ada orang datang dan bertanya kepada ulama besar.”Apa hukumnya mandi dan istinja’ dengan air zamzam?” tanyanya,Ulama itu menjawab,”masalah ini adalah masalah khilaf.Ada yang membolehkan dan ada pula yang tidak membolehkan”.Menurut pendapatmu sendiri bagaimana?” Tanya ulama itu.”Menurut saya,boleh-boleh saja mandi dan beristinja’ dengan air zamzam,karena tidak ada nash dalam soal ini”,jawab orang tadi.”Bagi saya hukumnya tidak boleh,karena juga tidak ada nash dalam soal ini.Air zamzam itu air yang mulia maka sepatutnya digunakan untuk hal-hal yang mulia.

Sabtu, 29 September 2012

Bagaikan Satu Tubuh


 
 Rosululloh saw bersabda:

لَا يُؤْ مِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِاَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ  -  رواه البخارى و مسلم
Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga cintanya kepada saudaranya bagaikan cintanya pada dirinya sendiri.(Muttafaq ‘Alaih)

Seorang muslim seyogyanya mencintai saudara muslimnya seperti  ia mencintai dirinya sendiri.Merealisasikan hadis tersebut secara tersurat terasa berat sekali (ash sho’bul mumtani’),seolah-olah tak sanggup.Hal ini dikarenakan sifat egoisme individu selalu dominan,bahkan dibakar oleh masyarakat dan media-media elektronik.Tak heran apabila kehidupan sesama muslim masih seperti kehidupan orang-orang dalam kereta.Mereka seolah-olah berjalan dalam satu gerakan,namun setelah kereta berhenti masing-masing menetukan nasibnya sendiri-sendiri.Kadang-kadang mereka saling sikat,saling copet dan lainnya.
Walau demikian,seorang muslim harus menerapkan hadis di atas.Penerapannya dengan mengikuti makna hadis sebagai berikut:
1. Makna dari lafadz “Laa Yu’minu” adalah meniadakan kamalul iman (kesempurnaan Iman),bukan nafyul iman (meniadakan iman) sama sekali.
2.  Adanya riwayat dari Imam An Nasa’i yang menyebutkan “Minal Khoir” sebagai tambahan “Maa yuhibbu li nafsihi”.Dengan riwayat itu realisasi hadis tersebut terasa lebih mudah,lebih-lebih bagi yang berhati salim,sebab dimensi al khoir (kebaikan) sangat luas dan tidak terbatas serta bisa dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi.Karena itu Alloh Subhanahu Wata’aala berfirman:
“Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS Al Baqoroh: 148)

Rabu, 01 Agustus 2012

Syari'at,Thoriqot dan Hakikat

 Taushiyah Vol III Edisi 30
Mobilisasi Menjelang Ramadhan
             
            Tidak lama lagi bulan Ramadhan menjelang. Jika hari-hari kemarin,bahkan saat ini,rasa-rasanya kita capek dengan berbagai problem perpolitikan, marilah sejenak memfokuskan diri pada problematika pembinaan jiwa sebagai upaya tazkiyatun nafs. Jika Ramadhan menjelang sementara kita belum melakukan mobilisasi ( pengerahan ) diri, tampaknya hal itu adalah bentuk kerugian, terlebih jika dillihat dari sudut pandang dakwah dalam kapasitas kejama’ahan.
      Allah swt menuntut kita semua menjadi saalikul aakhiroh ( orang yang meniti jalan akhirat).1 Maksudnya tinjauan hidup di dunia harus di arahkan kepada kepentingan yang jauh ke depan, pembangunan kehidupan akhirat. Pembangunan kehidupan akhirat hanya bisa dititi melalui jalur taqwa dan menghindari hal-hal yang merusak taqwa itu. Upaya meniti jalan akhirat ini kita tidak boleh tidak harus menempuh tiga jalur yang terkait erat ( menurut ilmu tashawwuf ), yaitu jalur syaria’at, jalur thariqat dan jalur haqiqat.
                Kenyataan umum di masyarakat, keberadaan tiga jalur tersebut sering kali dipraktekkan atau dipahami secara keliru. Contoh pertama, wujudnya thariqat dan haqiqat yang dipertentangkan dengan syari’at. Contoh kedua, thariqat umum diidentikan dengan hanya membaca wiridan-wiridan tertentu. Ketiga, jika orang sudah mencapai tahapan haqiqat, dia boleh ( ditolelir ) bertindak semaunya, meski melanggar sunnah. Keempat, munculnya aliran IS ( ilmu sejati ), dlsb.

Minggu, 29 Juli 2012

Serial Dakwah,Prinsip dan Strateginya (2 Habis)


 Taushiyah Vol V Edisi 55


 2.Al-Mau’idzoh Al-Hasanah
Mau’idzoh yaitu ucapan (nasehat,petuah,ceramah,khutbah) yang meluluhkan hati,yang mampu mendorong dan memberikan pengaruh kepada pendengar untuk melakukan apa yang diperintahk`n dan meninggalkan apa yang dilarang.Secara ringkas,memerintah dan melarang juga berarti mau’idzoh.Maka mau’idzoh hasanah ialah ucapan baik yang meluluhkan hati,yang mendorong dan memberikan pengaruh kepada pendengar untuk melakukan hal yang membawa kebaikan baginya di dunia dan akhirat.
Mau’idzoh agar sedapatnya mampu meluluhkan hati dan memberikan pengaruh,mesti diberikan dengan bahasa ubapan atau bahasa tulisan yang baik,tidak berbelit-belit,arahnya jelas,sederhana,menyentuh,enak didengar,dan menamcap dihati,membangkitkan semangat dan kekhawatiran,disamping menumbuhkan sikap harap dan sikap cemas,untuk kemudian memasuki relung jiwa pendengar.Dari hati ke hati.Kecuali jiwa yang dipenuhi kedzaliman dan hati yang buta dan ternoda karena karatan
Selain itu,mau’idzoh hasanah mesti diberikan dengan materi (bahan) yang bagus dan memadai.Pas dengan penyakit,problem dan situasi yang dihadapi pendengar.Diantara bahan yang bagus yang keseluruhannya termaktub dalam Al Quran dan Al Hadis adalah menuturkan kisah-kisah ummat terdahulu,hari akhir,janji dan ancaman Alloh swt,juga menyoroti perilaku manusia dengan segala akibatnya,lengkap dengan perumpamaan dan sindiran,dengan mengaitkannya kepada ajaran agama Islam.
Retorika,sikap dan gaya Rosululloh saw dalam memberikan mau’idzoh kiranya patut di teladani dan dicontoh.Mimik intonasi mau’idzohnya pas.Kalimat-kalimat beliau jelas dan terang.Tidak hazl (guyonan).Huruf-hurufnya halus dan pilihan.Tidak bersajak lebih-lebih menyanyi (taronnum),tetapi melepas kata-katanya sedemikian rupa,kecuali sajak yang muncul dengan sendirinya (tidak disengaja).Tidak memaksa menggunakan kata-kata yang langka yang justru dapat mengaburkan arti dan maksud yang dikehendaki.Wejangan beliau sesuai dengan akal pikiran.Sesuai dengan taraf dan tingkat kecerdasan pendengarnya.Sikapnya selalu sabar,lemah lembut,tenang dan pemaaf terhadap yang keras kepala.Rosululloh saw  bersabda:

Kamis, 21 Juni 2012

Serial Dakwah,Prinsip dan Strateginya

Taushiyah Vol V Edisi 55

  1.Bil Hikmah

Islam adalah agama dakwah.Prinsip dan strategi berdakwah,sebagaimana perintah Alloh swt kepada Rosululloh,adalah bil hikmah,al mau’idzoh al hasanah,dan mujadalah billati hiya ahsan.Mengingat pentingnya pengetahuan ini,khususnya bagi para da’I,maka ketiga prinsip dan strategi ini akan kita kaji secara berseri,insyaAlloh.Kita mulai dari prinsip dan strategi yang pertama,bil hikmah.Berangkat dari firman Alloh swt;

Serulah kepada jalan Tuhanmu bil hikmah,mau’idzoh hasanah,dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik (mujadalah billati hiya ahsan).Sesungguhnya Tuhanmu,Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.An Nahl: 125)
Hikmah di Indonesia umunnya diartikan “kebijaksanaan” disamping kepandaian,kesaktian dan magi (perdukunan).Dengan arti kebijaksanaan ini mengesankan,hikmah erat kaitannya dengan filsafat,yang dasar dari filsafat adalah kebebasan berfikir.Kesannya kemudian,hikmah merupakan produk pemikiran dan perasaan manusia yang bias.Kita lihat arti kata “hikmat kebijaksanaan” dalam salah satu sila di Pancasila.Orang menafsirkan bermacam-macam,secara bebas,bias,sesuai dengan pemikiran dan perasaan sendiri-sendiri.Akhirnya kata “hikmat kebijaksaan” itu menjadi rancu.
Terlepas bahwa setiap disiplin ilmu memiliki pengertian tersendiri terhadap sebuah istilah,kata hikmah agaknya perlu diartikan secara tepat,dengan istidlal yang kuat,setidak-tidaknya dalam perspektif dakwah,karena menyangkut aktifitas “menyeru kepada jalan Tuhan”.
Definisi Hikmah
Al-Imam Al-Allamah Abdul Hamid bin Muhammad bin Badis Shonhaji  (1307-1359) berkata:

اَلْحِكْمَةُ هِيَ الْعِلْمُ الصَّحِيْحُ الثَّا بِتُ الْمُثْمِرُ لِلْعَمَلِ الْمُتْقِنُ الْمَبْنِىّ عَلَى ذَلِكَ الْعِلْمِ
Hikmah adalah ilmu (pengetahuan) yang shahih (valid) dan kokoh (tidak luntur),yang membuahkan perbuatan meyakinkan yang didasarkan pada ilmu tersebut. (Tafsir Ibnu Badis Fi Majalis At Tadzkir min Kalam Al Hakim Al Khobir,As Shonhaji,hal; 320)

Hikmah dengan definisi ini berarti mencakup: Pertama,Al Aqoid Al Haqqoh (akidah-akidah yang benar) dan al haqiqot al ilmiyah (realitas keilmuan) yang kokoh dan mendalam yang menampakkan pengaruh pada ucapan dan perbuatan.
Kedua,al a’mal al mustaqimah (perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara istiqomah) dan al kalimat at thoyyibah (untaian kalimat-kalimat yang bagus) yang menjadi buah dari aqidah yang benar.Ketiga,al akhlak al karimah (akhlak-akhlak yang mulia).Keempat,keterangan dann penjelasan yang komplit,lugas,dan simple tentang poin-poin tersebut (al aqoid al haqqoh,al haqiqot al ilmiyah,al a’mal al mustaqimah,al kalimat ath thoyyibah,dan al akhlak al karimah).Dalam hal ini Al Quran dan Al Hadits yang memuat berbagai penjelasan hal-hal tersebut secara komplit,logis,dan simple termasuk hikmah.Begitu pula isi kandungan Al Quran dan Al Hadits seluruhnya merupakan hikmah yang diajarkan kepada orang-orang yang beriman.

Dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (QS Ali Imron: 164)

Istidlal
Dari mana istidlal definisi tersebut? Pertama,Surat Al Isro’ ayat 22-39 (18 ayat) menyebut secara lengkap akidah yang benar,realitas keilmuan yang kokoh dan mendalam,perbuatan yang istiqomah (lurus dan langgeng),untaian kalimat yang bagus,dan akhlak yang mulia.Dan sendi-sendi hidayah ini disebut Alloh dengan sebutan Hikmah,seperti dalam firmanNya:

Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu.(QS Al- Isro’ 39)

Kedua,di dalam Hadits,Rosululloh bersabda:

اِنّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً  -  رواه البخارى وابوداود والترمذى وابن ماجه
Sesungguhnya ada hikmah diantara sya’ir. (HR Bukhori,Abu Dawud,Tirmidzi,dan Ibnu Majah)
Makna Hadits ini,dari sekian syair terdapat syair yang menerangkan aqidah yang benar,pekerti luhur,perbuatan mulia,maupun menerangkan ilmu dan eksperimen,seperti syair Umayyah bin Abi Ash Shalt (beliau menyebut hampir saja dia masuk Islam dengan kandungan sya’irnya) dan syair Labid bin Robiah,yang disebut beliau sebagai gubahan syair era jahiliyah paling jujur.Syair Labid bin Robiah itu berbunyi:

اَلَا كُلُّ شَيْئٍ مَاخَلَا اللهَ بَاطِلُ   وَكُلُّ نَعِيْمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلُ
Ingatlah,segala sesuatu selain Alloh itu batil.Dan setiap kenikmatan pasti lenyap.

Himbauan dan Seruan
QS An Nahl: 125 tersebut di muka menyeru kita dalam berdakwah hendaknya bil hikmah (dengan hikmah).Maka ketika berdakwah,kapan dan di mana saja,hikmah dengan definisi di atas hendaknya diiltizami dengan segenap upaya.Yakni memahami,meyakini dan mengerti ajaran agama,dan disaat yang sama bersemangat dan beristiqomah didalam melaksanakannya.
Realitas yang ada saat ini,kala berdakwah justru banyak praktek-praktek yang bertentangan dengan prinsip dan strategi bil hikmah itu.Misalnya mencampuradukkan keyakinan (dakwah dengan dangdut,umpamanya).Menampilkan wacana keilmuan (materi dakwah) yang sumbernya tidak jelas,seperti mengambil cerita dari hadis-hadis palsu.Ceramah namun enggan mengamalkan.Mengamalkan tapi tidak istiqomah,tambal sulam (gejala futur) dsb.
Maka,suatu keharusan bagi para da’I menyingkirkan dan mengadakan perlawanan terhadap kebodohan,kedangkalan,kemandegan,keengganan dan kekendoran dalam dirinya,denganselalu berpegang teguh pada hakikat keilmuan beserta dalil,akidah dengan bukti,seraya mengasah pekerti yang luhur,dan perilaku yang bagus.Kaum muslimin insyaAlloh akan mampu memperbarui hidupnya secara terus-menerus,dengan dakwah-dakwah yang bil hikmah ini.
Wallohu A’lam
11 Maret 2001

Selasa, 22 Mei 2012

Mafhum Hikmah dan Siyasah Dakwah




Taushiyah Vol IV Edisi 48

Kala dirayu oleh Utbah bin Rabiah ,duta dari komunitas quraisy,tawaran kekayaan ,kekuasaan dan kedudukan,jawaban rasulullah terhadap rayuan ini adalah :
مَا جِئْتُ بِمَا جِئْتُكًمْ بِهِ اَطْلُبُ اَمْوَالَكًمْ وَلَا الشَّرَفَ فِيْكُمْ وَلَا الْمُلْكَ عَلَيْكُمْ, وَلَكِنَّ اللهَ بَعَثَنِي اِلَيْكُمْ رَسُولًا, وَاَنْزَلَ عَلَىَّ كِتَاًبا وَاَمَرَنِيْ اَنْ اَكُوْنَ لَكُمْ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. فَاِنْ تَقَبَّلُوْا مِنِّي مَا جِئْتُكُمْ بِهِ    فَهُوَ حَظُّكُمْ فِي الدُّ نْبَا وَالْاَخِرَةْ وَاِنْ تَرُدُّوْهُ عَلَىَّ اَصْبِرُ لِاَمْرِاللهِ حَتَّى يَحْكُمَ اللهُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ
Aku tidak datang kepadamu demi mendapatkan harta kekayaanmu,kedudukan di sisimu,dan juga kekuasaan di atas mu.Namun Allah mengutusku kepadamu sebagai Rasul ,menurunkan kepadaku kitab,memerintahkan menjadi pembawa berita kegembiraan dan peringatan kepadamu.Jika kamu menerimanya,itu bagianmu di dunia dan akhirat,jika kamu menolaknya ,aku akan bersabar  sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu  ( Dr.Muhammad Said Romdlon Al Buthi.Fiqhus Siroh,hal 111)
Dalam berdakwah mesti dititi hikmah (kebijaksanaan)dan strategi yang benar.Hikmah dan siyasah itu di maksudkan sebagai sarana yang efektif bagaimana mendekatkan materi dakwah kepada sasaranya (manusia).Tentu saja hikmah dan siyasah itu berkembang sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi,asal dalam prinsipnya tidak menyimpang dari koridor prinsip kebenaran yang tercermin dari cahaya Aqidah Islamiyah.
Selama menjalani praktek dakwah, di sana akan banyak ditemui potensi dan peluang disamping tantangan dan kendala.Adakalanya sasaran dakwah itu menerima dengan suka rela,menerima dengan syarat,menolak dengan keras,dan menolak dengan halus bahkan merayu dan memuja,menawar dan membeli dengan kekayaan,kekuasaan dan kedudukan,di balik maksud mendistorsi  misi dakwah,apalagi disamping pelaku dakwah sudah di hantui kebosanan dan kecapean ,kesulitan ,serta kebuntuan selama perjalanan dakwahnya.
Hikmah dan siyasah Rasulullah saw di atas perlu di jadikan bahan kajian ,bahwa di saat harga dakwah itu bernilai besar dengan kekayaan,kekuasaan,dan kedudukan ternyata beliau tidak serta merta menjualnya .Justru beliau bertahan dengan prinsipnya,teguh dan kokoh,dengan kompensasi di caci,dihina,diboikot,bahkan diusir dari negerinya,seperti d prediksikan secara dini oleh Rahib Waraqah bin Naufal.Sunnatullah jalan dakwah memang tidak mulus ,lurus dan halus akan tetapi terjal, mendaki dan curam.
Datangnya kebosanan dan kebuntuan serta kesulitan dalam berdakwah tidak harus dilakukan hikmah dan siasat menjual diri dan menjual misi dakwah dengan kekuasaan kedudukan dan kekayaan.Prinsip dakwah yang benar di gambarkan oleh Nabi Sulaiman kala menolak kiriman upeti dari ratu Bilqis yang saat itu penguasa saba ini hendak menguji kesungguhan atau kedustaan aktivitas dakwah Nabi Sulaiman .Ratu Bilqis berpendapat seandainya upeti itu di terima ,yakinlah dia akan kedustaan seruan kebaikan dari Nabi Sulaiman .Dengan penolakan itu bukan hanya dakwah Nabi Sulaiman mendapatkan simpati,malah ratu Bilqis beseta rakyatnya berbondong –bondong menyatakan keimanannya.
Suatu hal yang penting dalam menjalani dakwah ialah kesiapan untuk melakukan latihan tadhliyah (pengorbanan).  Latihan berkorban untuk sabar dan teguh kala datang tawaran dan peluang berkorban untuk di sakiti dan di usir kala datang kendala dan tantangan , berkorban untuk mendahulukan orang lain ,berkorban mengurangi hartanya untuk di infakan serta berbagai bentuk pengorbanan lainya .Akan pentingnya latihan tadhliyah ini , sahabat Abu Bakar As-Sdidiq memberikan nasihat kepada pahlawan Islam Khalid bin Walid:
اِحْرِصْ عَلَى الْمَوْتِ تُوْهَبْ لَكَ الْحَيَاةْ
Bersemangatlah untuk mati ,niscaya di berikan kepadamu hidup (Ad Dakwah Al Ishlahiyah.Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki,hal 18)
Hikmah dan siyasah dakwah yang mesti bukanlah demi menggapai kekuasaan ,kedudukan,dan kekayaan.Dalam soal ini prinsip kita tetap bergantung (i'timad)kepada Allah sebagai al Musabbib.Namun prinsip hikmah dan siyasah dakwah ialah dalam rangka membangun, membentuk,dan melahirkan sumberdaya manusia yang layak dikader,dibina dan dibimbing (takwinur rijal). Menumbuhkan kader-kader yang siap berkorban,siap menerima dirinya untuk teguh,ulet dan sabar,siap untuk dicontoh,siap untuk mengerahkan segenap kemampuan ,siap untuk berderma dan siap untuk hijrah.
Sebetulnya disinilah nilai dakwah itu .Dan inilah jawabannya mengapa Islam yang dibawa rasulullah berkibar ke seantreo jagat dan tetap eksis hingga hari ini.Masjid (pusat pengkaderan )beliau tidak cukup besar ,hanya beralas pasir ,dan beratap daun kurma ternyata mampu menumbuhkan ratusan ribu hero (pahlawan),berkat ketelatenan dan kedisiplinan membina kader,dan di sisi lain berkat ketidak tergiuranya beliau dengan tawaran kesenangan sesaat.Dalam sebuah syiir di sebutkan :
اطّلَعَ الْمَسْجِدُ الْكَرِيْمُ اُنَاسَا   اِنْتَجَتْهُمْ مَدَارِسُ الْقُرْاَنِ
صَقَلَتْهُمْ يَدُ النَّبِيِّ فَاَضْحَوْا  غُرَّةَ الدَّهْرِ فِيْ جَبِيْنِ الزَّمَا نِ
Masjid yang mulia memunculkan manusia-manusia.Mereka dihasilkan dari madrasah-madrasaQur'an.Mereka di tempa oleh tangan Nabi SAW.Maka jadilah mereka putih-putih berseri dikening zaman .
(Muhammad Ali Ash Shobuni,Al Muqtathof,hal 87)
Hikmah dan siyasah dakwah untuk menumbuhkan kader akan terus berjalan dan disanalah prospek dakwah itu di masa-masa yang akan datang ,eksis,menyebar dan dan mengalami penerimaan yang cukup.Akan tetapi apabila hal ini di tinggalkan ,dan pada akhirnya tergiur dengan kepentingan kekuasaan ,kedudukan dan kekayaan meski dengan alasan hikmah dan siyasah,yakinlah bahwa api dakwah akan suram dan mundur,kalau tidak akan hancur berantakan .Maka saat ini di tunggu kesediaan kita bersama untuk latihan berkorban  .Pengorbanan ialah tanda keseriusan dan kejujuran,bahkan konon terasa nikmat bila proses kerja didahului kendala dan tantangan yang mesti di jalani dengan pengorbanan .Dan semakin banyak kita berkorban ,semakin besarlah buah yang dihasilkan kemudian.Sasaran dakwah kita kiranya masih menunggu pengorbanan yang lebih besar dari kita saat ini.
-------------------------------------------------------

Minggu, 20 Mei 2012

Jenjang Perjuangan



Bismillahirrahmanirrahim
                Dalam berdoa memang afdholnya memakai Alfaadz Nabawiyah, namun mengingat tingkat hajat yang kompleks, maka diperbolehkan memakai lafadz doa apa pun sesuai dengan hajatnya. Alloh Ta’ala Berfirman :

اُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan kabulkan untuk kalian (QS. Al-Ghofir : 60)

Sahabat Ala’ bin Al Hadramy minta kepada Alloh Ta’ala bisa menguasai negeri Bahrain, minta diberi air dan berwudhlu tatkalan tiada air, minta bisa berjalan di atas lautan, dan minta tidak ditampakkan mayatnya, dengan membaca doa yang bukan Alfaadz Nabawiyah, ternyata permintaannya dikabulkan. Doanya berbunyi :
يَا عَلِيْمُ يَا حَلِيْمُ يَا عَلِيُّ يَا عَظِيْمُ
“Wahai Dzat Yang Maha Ilmu, Wahai Dzat Yang Maha Santun, Wahai Dzat Yang Maha Luhur, Wahai Dzat Yang Maha Agung”

                                Secara tersirat, doa jami’ yang bernuansa Asma’ul Husna ini juga meggambarkan secara global bagaimana jenjang (tahapan) perjuangan Islam yang mesti dilalui Jama’ah Dakwah dalam kaitannya dengan Izzul Islam wal Muslimin.

Jenjang Pertama
                                Dari lafadz “Ya Alimu”  tersirat bahwa fundamen pertama adalah ilmu. Oleh karena itu anggota jama’ah dakwah dituntut memenuhi fundamen pertama ini. Dengan demikian upaya memacu ilmu melalui tatsqif bagaimanapun mesti dilakukan secara konsisten demi menyambut peran berikutnya.

Jenjang Kedua
                                Bersama memacu ilmu, ada kewajiban mengamalkannya. Peran sebagai bentuk mengamalkan ilmu adalah berdakwah merupakan peran khusus orang yang berilmu. Sementara dalam amanah mengamalkan ilmu mesti berjumpa tantangan dan hambatan yang menuntut dihadapi secara tabah dan sabar. Disiniah Jama’ah Dakwah harus memiliki sifat hilm (santun) sepert ditunjukkan oleh lafadz Halimu.
Lantaran sifat hilm, Rasululloh memberikan pujian kepada sahabat Al-Asyaj Abdil Qais bin ‘Aid dalam sabdanya :
اِنَّ فِيْكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا الله،ْ الْحِلْمُ وَالْأُنَاةْ   -  رواه مسلم
“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua perangai yang dicintai Alloh, yaitu Hilm dan sabar.” (HR. Muslim)

                                Salah satu manifestasi dari sifat hilm adalah terbuka dalam mengamalkan ilmu, sementara saat ini tumbuh arah eksklusifisme ilmu yang berbahaya. Akan berbahayanya sikap eksklusifisme ini, khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata :
اِنَّ اْلعِلْمَ لَايَهْلِكُ اِلَّا اِذَا كَانَ سِرَّا
“Sesungguhnya ilmu tidak bersifat merusak kecuali ilmu yang dirahasiakan” (Riyadus Sholihin)

Jenjang Ketiga
                                Seperti ditunjukkan oleh lafadz Ya Aliyyu, maka sesuai dengan kedudukan Islam yang luhur. Jama’ah dakwah mesti mempunyai program-pogram Dakwah yang luhur pula. Program luhur artinya program yang bagus dan rapi yang ditunjang dengan keseriusan dan optimisme.
                                Pada dasarnya dibalik menjalankan setiap ajaran Islam pasti ada keluhuran, sekalipun ajaran terlihat remeh, karena Islam itu luhur dan tidak ada yang lebih luhur daripadanya. Oleh karena itu Khalifah Umar bin Khottob ketika melihat Abu Ubaidah terkesan meremehkan Islam, beliau berkata :

يَا اَبَا عُبَيْدَةْ اِنَّكُمْ كُنْتُمْ اَذَلَّ وَاَحْقَرَ النَّاسِ فَأَعَزَّكُمُ اللهُ بِالْاِسْلَامْ فَمَهْمَا تَطْلُبُ الْعِزَّ بِغِيْرِهِ يُذِ لُّكُمُ اللهُ
“Wahai Abu Ubaidah ! Sesungguhnya kamu dulu termasuk orang yang paling terbelakang dan terhina, lalu Alloh memuliakanmu dengan Islam. Oleh karena itu manakala kamu mencari kemuliaan dengan selain islam maka Alloh akan kembali merendahkan kamu.”

Jenjang Keempat
                                Bila ketiga jenjang diatas telah tercapai secara optimal, maka Insyaalloh secara otomatis akan tercapai cita-cita keagungan (keberhasilan) Dakwah Islam, sebagaimana ditunjukkan lafadz “Ya Adzim” , berkat fadlullah setelah ada kerja keras akhdzul asbaab di atas.
                                Oleh karena bagusnya makna doa sahabat Al Alaa’ Al Hadramy tersebut maka adalah layak bagi setiap Anggota Jama’ah Dakwah untuk mengiltizaminya, sekaligus mengamalkan makna tersiratnya.

Wa Allohu A’lamu Bis Showab