Tampilkan postingan dengan label TAZKIYAH (Munjiyat). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAZKIYAH (Munjiyat). Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2012

Terapi Lemahnya Irodah



 
Taushiyah Vol VIII Edisi 82

                Irodah (al-irodah) secara bahasa berarti kehendak  atau greget, sedang yang kita maksudkan  di sini adalah kuatnya semangat dan usaha yang dapat mengarahkan manusia terhadap suatu tujuan tertentu. Irodah dalam hal ini adalah potensi yang membangkitkan. Manusia menghendaki makan untuk kelangsungan hidupnya,manusia menghendaki menikah untuk kelangsungan populasi. Manusia menghendaki akidah (prinsip) dan nilai-nilai agar dia meningkat kualitasnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Jumat, 30 November 2012

Sarana Menuju Sukses dalam Suluk




  وسائل النجاح في السلوك
Segala puji bagi Alloh Dzat yang mencukupi segalanya. Sholawat salam atas Rosul Al Musthofa, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak langkahnya.
Di bawah ini adalah hal-hal pokok yang mesti harus diperhatikan oleh para penempuh suluk (akhirat):

Jumat, 12 Oktober 2012

33 Kiat Menggapai Ketenangan Jiwa


Taushiyah Vol VIII Edisi 86


Situasi kesehatan jiwa saat ini ,sebagaimana dinyatakan oleh badan Kesehatan Dunia ( WHO) ,merupakan krisis yang tidak terungkap yang akan semakin buruk di masa-masa yang akan datang.
Di zaman maju ini,betapa banyak orang menderita ketegangan, kecemasan, panik, depresi, tidak puas, disharmoni, gelisah,kecewa,curiga berlebihan, dan lainnya sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang mengganggu jiwa atau batinnya. Dengan kenyataan ini, ketenangan jiwa semakin mahal harganya dan akan semakin didamba banyak orang.
Dulu, ada pepatah : “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat ( men sana in corpora sano ),” kini  justru dipercaya kebalikannya, bahwa “ dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat,” karena ternyata banyak orang yang tubuhnya segar bugar tapi jiwanya sakit, sementara ada orang yang meski tubunya sakit tapi jiwanya tetap sehat.

Minggu, 05 Agustus 2012

Ibadah,Sentuhan dan Penjiwaannya


  
Taushiyah Vol V Edisi 52

     Ibadah pada dasarnya ialah sarana interaksi dan komunikasi antara hamba dengan Tuhannya, juga berarti tarbiyah untuk menjiwai dan merasakan kedekatan dan kecintaan sama Alloh swt. Ibadah sholat,misalnya,adalah sarana pertemuan, doa, dzikir, dan munajat.Ibadah haji adalah kegiatan ziarah baitullah sebagai sarana penjiwaan dan perasaan bertamu dan dekat kepadaNya. Ibadah puasa adalah sarana mengekang terhadap apa yang disukai nafsu dan sarana mendahulukan apa yang disukai oleh Alloh swt.Dan ibadah zakat,selain sebagai sarana pensucian harta, ia adalah wahana penjiwaan terhadap anugrah dan nikmat Alloh swt.
       Dengan arti ibadah sebagai sarana interaksi dan sarana tarbiyah tersebut, maka tampak yang di butuhkan dari pelaksanaan ibadah ialah pengaruh ibadah dan penjiwaannya terhadap diri kita.Semakin ibadah dijiwai dan memberikan pengaruh,berarti  kian baiklah ibadah kita.Pengaruh ibadah dan penjiwaannya inilah yang menumbuhkan pada diri seseorang kecintaan kepada Alloh swt (mahabbatulloh atau hubbulloh) yang menjadi tuntutan setiap orang yang beriman.Didalam al-Qur’an Alloh berfirman:

Kamis, 26 Juli 2012

Menuju Kesempurnaan Diri



Taushiyah Vol II,Edisi 19
“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang sholeh, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada Allah”.  (QS. Al Isro’: 25)
                Orang-orang sholeh yang di sebut dalam ayat ini adalah orang-orang yang sholeh jiwanya (Sholahun Nafsi). Dari kesholehan jiwa itu lalu terbentuk pula kesholehan segala ucapannya, perbuatannya dan sifatnya. Oleh karena itu barangsiapa tersaksikan melakukan amal-amal sholeh, yaitu amal yang berjalan diatas landasan syara’ dan sunnah-sunnah Nabi, maka ia patut dinyatakan sebagai orang yang sholeh jiwanya, dalam arti ia termasuk golongan orang-orang yang sholeh.
                Dalam hal ini Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mensifati orang-orang sholeh yang tercermin dari karakter Ummah Qooimah:

“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus: mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat); mereka beriman kepada Allah dan hari akhir; mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; dan mereka bersegera kepada pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh”. (QS. Ali Imran: 113-114)
                Ketika amal sholeh menjadi indikasi (tanda) keshalehan diri, maka orang-orang shaleh berbeda-beda derajat kesalehannya sesuai dengan tingkat perbedaan amal-amal mereka sekaligus perbedaan kedudukan mereka menurut Tuhan yang bisa diketahui oleh Allah Subhanahu Wata’ala, berdasarkan hadits:                        التقوى ههنا
Taqwa itu di sini”. (Rasulullah bersabda demikian seraya berisyarah pada dadanya tiga kali).  (HR. Muslim lihat Hadits Arbain Nawawi nomor ke-35)
                Untuk mencapai derajat keshalehan diri, mesti harus ada upaya muroqobah (mawas diri) semungkin-mungkinnya agar keshalehan diri terus stabil. Cara yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mencapai keshalehan diri adalah (banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala) atau dalam kata lain katsrotul awbah (diambil dari lafadz. Al-awwabin).Ketika disebut bahwa sifat orang-orang shaleh adalah banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka bersamaan dengan itu disebut pula salah satu Asmaul HusnaNya yang menunjukan akan banyaknya ampunanNya agar tercipta kesesuaian. Artinya, bahwa orang yang banyak kembali kepada Allah pasti harapan besar banyak diampuni.
Inilah yang membedakan antara kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan kembali kepada manusia.manakala seseorang bertambah banyak kembalinya kepada manusia, manusia akan memarahinya. Sementara seseorang bertambah banyak kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala maka Allah bertambah mengampuni kepadanya. Bahkan dibanding dengan kembalinya seseorang kepada Allah, ampunan Allah masih lebih luas. Oleh karena itu disebut dengan memakai lafadz (….) yang berarti untuk menguatkan pengharapan akan ampunan.
Dengan demikian ayat di atas mengandung dua hal yang mesti ada pada manusia untuk menyempurnakan dirinya, yaitu:
1.       Keshalaehan Diri (Sholahun Nafsi). Seperti ditunjukan oleh bagian ayat: 
        
Upaya mencapai keshalehan dengan kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala (Ishlahun Nafsi). Seperti ditunjukan oleh bagian ayat:

Dari  sini selama untuk menyempurnakan dirinya manusia bermujaahadah dengan dua hal ini niscaya dengan dengan seizin Allah ia akan sampai cita-cita dan harapannya kepada derajat kesempurnaan. Dan bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk mereflesikan dua hal itu, utamanya bagi anggota Jama’ah Dakwah. Wallahu A’lam