Selasa, 05 Juni 2012

Tau'iyyah Online


 

 Malam Kamis kemarin saya dapat kesempatan ngaji bareng akhowat Ma’had Nurul Haromain di kota Batu.InsyaAlloh,selama sembilan hari calon-calon ibu ummat ini akan menjalani program tau’iyyah (pembinaan) di ma’had al-Manhal asuhan dai senior kita Ustadz  H.Rofi’an.Adapun kitab yang di kaji adalah  ‘’Min aina nabda’?” atau materi pembinaan dasar.Oleh Ustadz  Masyhuda saya disuruh menyampaikan bab “Miqyasul Amal” atau tolok ukur perbuatan.Namun setelah disana ternyata bukan bab itu yang waktu itu hendak dipelajari.Melainkan bab “Potensi kehidupan dalam diri manusia” atau Thoqoh hayawiyyah. Peserta tau’iyyah sendiri adalah semua akhwat kelas satu Madin az-Zahro’.Untuk diketahui bahwa jumlah santri putri untuk tahun ini memang meningkat,sehingga kelas satu jumlahnya lebih banyak dari pada kelas-kelas yang lain.Seperti yang pernah saya tulis di group tercinta ini juga bahwa tahun ini ada dua santri baru dari Vietnam.Saat menjelang petang saya pun berangkat dari Pesma al-Mukmin mandalawangi bersama Akhi Nasor.Mahasiswa UM yang juga berkhidmah di Lazis al-Haromain cabang Malang ini sekalian membawa bingkisan dari Lazis untuk diberikan kepada santri ma’had al –Manhal yang juga seorang anak yatim.
Senang sekali karena Abi Ihya’ dan Ummi waktu itu juga sedang bertamu di rumah Ustadz H.Rofi’an.Setelah Maghrib pengasuh majlis ta’lim dan maulid yang terkenal “Riyadlul jannah” ,Gus Rohim,juga berkunjung.Akhirnya saya dan Akhi Nasor pun menjadi pendengar setia obrolan-obrolan dakwah para ulama’ ini.Tak ketinggalan,kasus gagalnya Jupe tampil di Batu pun ikut menjadi pembahasan.Bersama MUI,Ustadz Rofi’an juga terlibat sangat aktif dalam usaha penggagalan artis yang oleh teman-teman FPI di sebut sebagai binti dajjal ini.Bahkan beliau juga yang menemui Kapolsek agar kedatangan Jupe ditolak.Saat ini,pihak penyelenggara yang sebelumnnya ingin mendatangkan Jupe sedang menuntut anggota MUI Kota Batu.Bahkan kabarnya mereka menuntutnya untuk membayar ganti rugi sebesar dua milyar.
Kembali kepada tau’iyyah dan masalah potensi kehidupan dalam diri manusia. Paginya saya kembali menikmati diskusi menarik seputar ulama Turki kenamaan yang bernama Said an-Nursi di group NHP ini.Diskusi yang berbobot antara dua intelektual muda ini akhirnya juga menyinggung nama Besar Thoyip Erdogan dan Abdulloh Gul,dwi tunggal yang saat ini menjadi perdana mentri dan persiden Turki.Dan selanjutnya saya menjadi tertarik untuk mengajak semua ikhwan atau akhwat untuk “rihlah” sejenak ke Turki.Karena seperti yang diketahui Turki telah menjadi salah satu “kota suci”bagi ummat Islam karena disanalah Khilafah  disingkirkan.Meskipun demikian,seharusnya disana pula kaum muslimin bisa mengambil pelajaran besar sekaligus bermanfaat bagi mereka.Karena di sebutkan dalam materi pembinaan di atas bahwa dalam diri manusia ada tiga naluri yang harus dipenuhi agar kehidupan manusia itu berjalan secara semestinya.Naluri-naluri tersebut adalah naluri bertahan hidup,naluri lawan jenis dan naluri beragama.Kaitannya dengan Turki adalah bagaimana kita bisa melihat posisi naluri beragama itu dalam diri manusia.Dan saat ini kita bisa mempelajari itu dari masyaratkat Muslim Turki.Tepatnya semenjak kekhilafahan disingkirkan dari mereka (ummat Islam).
Recep thoyip Erdogan dan Abdulloh Gul benar-benar membuat Turki menjadi perhatian dan buah bibir dimana-mana.Terlebih ketika revolusi musim semi Arab telah berhasil menumbangkan banyak rezim otoriter dan membuahkan kemenangan bagi partai-partiai Islam.Perdana mentri dan Presiden Turki ini perlahan namun pasti mampu menghidupkan spirit keislaman dinegara Mustofa Kamal tersebut.Partai mereka,AKP,bahkan memenangkan pemilu tiga kali secara berturut-turut.Kemenangan partai berhaluan Islam ini tentu saja sangat menarik perhatian karena setelah berhasil menumbangkan Khilafah (1924),Mustofa Kamal menghendaki agar negara itu menjadi negara sekuler.Maka dari itu kita mendengar bahwa antek yahudi ini melarang jilbab dan pakaian muslim ditempat-tempat umum dan memaksa kaum Muslimin untuk memakai pakaian ala barat.Tidak hanya itu,lembaga keagamaan juga di tutup,bahasa arab di ganti dengan bahasa Turki.Bacaan adzan juga di ganti dengan bahasa Turki.Bahkan bacaan sholat pun demikian,begitu juga  Masjid hendak di ganti menjadi gereja Islam modern.Namun karena penolakan yang keras akhirnya dua usaha terakhir ini gagal.Intinya,Mustafa Kamal benar-benar ingin menjauhkan aturan dan nilai-nilai agama dari kehidupan rakyat Turki.
Namun peristiwa tragis dan memilukan itu telah berlalu 80 tahun yang lalu.Kini perempuan-perempuan muslim Turki telah bisa memakai Jilbab mereka di tempat-tempat umum.Dan hal itu adalah bagian kecil dari apa yang telah di upayakan oleh Erdogan dan Abdulloh Gul.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah usaha sekulerisasi membabi buta Mustafa kamal yang sudah berlaku beberapa dekade itu telah menghilangkan naluri beragama masyarakat muslim Turki??.Apakah setelah sekulerisme memaksa mereka untuk menjauh dari agama kemudian naluri beragama itu hilang dari mereka??.Atau apakah Turki harus menunggu sampai 80 tahun agar naluri beragama itu bisa kembali terlihat dari kaum Muslimin Turki??.Jawabannya ternyata tidak.Pada desember 1995,partai yang “berhaluan” Islam,partai Refah juga telah memenangkan pemilu  Turki.Necmettin Erbakan yang menjadi tokoh partai tersebut pun menjabat sebagai perdana mentri.Ketika itu,perlahan namun pasti usaha Islamisasi juga telah di upayakan Erbakan.Seperti mencabut UU larangan memakai jilbab di tempat umum.Menambah jam siaran agama di televisi,merencanakan pembangunan masjid di lapangan Takzim Istambul,menentang penutupan sekolah-sekolah Islam dsb.Namun sangat di sayangkan karena pada 1997 Erbakan harus mengundurkan diri.Yang demikian adalah adanya ketakutan kaum sekuler Turki dan negara-negara barat akan gebrakan-gebrakan Erbakan hingga akhirnya beliau mengalami benyak tekanan.Tidak hanya itu,partai Refah juga menjadi partai yang terlarang.Selanjutnya,Mesut Yilmaz yang menggantikan beliau sekaligus antek barat dan kaum sekuler pun kembali melarang jilbab,menutup sekolah-sekolah agama dan memangkas jam siaran agama di TV.
Bahkan jauh sebelum Erbakan,Masyarakat Turki telah mengenal dan memilih Adnan Mandaris.Pada tahun 1950 Partai Demokrasi pimpinan Adnan Mandaris ini unggul atas Partai Republik bentukan Mustafa Kemal,bapak sekuleris Turki.Selama 10 tahun pimpinannya,Adnan Mandaris juga berusaha menempatkan Islam kembali ke masyarakat Turki.Dengan cara yang sangat halus,Mandaris berhasil membuat adzan kembali di kumandangkan  dalam bahasa Arab (sebelumnya di kumandangkan dalam bahasa Turki:Lafadz Allohu Akbar di ganti dengan Allohul Buyuk),masjid-masjid yang telah di hancurkan di renovasi,fakultas teologi dibuka kembali dan sejumlah lembaga tahfidzul Quran juga kembali di munculkan.Namun meskipun apa yang di lakukan oleh Mandaris adalah sangat manusiawi dan jauh dari sikap radikal,akan tetapi kebijakan-kebijakan Mandaris itu di anggap sebagai kejahatan oleh kalangan sekuleris Turki,teruama kelompok militer yang bertindak sebagai penjaga gawang sekulerisme.Mandaris di tuduh menciptakan pemerintahan yang primitif,statis,berkhianat terhadap ajaran Mustafa Kemal,mengancam demokrasi dan lain sebagainya.Sebagai hukumannya,pada tahun 1960,terjadi kudeta militer dan Mandaris bersama Ketua Parlemen Bulatuqan dan mentri luar negri  Fatin Zaurli dihukum mati.
Uraian singkat ini kiranya bisa memberika gambaran bagaimana posisi naluri beragama dalam diri manusia.Bahwa naluri ini harus di penuhi juga bisa terbaca dari apa yang melanda Turki.Usaha seperti apapun yang dilakukan untuk menghilangkan naluri ini seperti menghilangkan panas dari api.
Sekulerisasi yang dilakukan oleh Mustafa Kemal adalah salah satu contoh usaha menghilangkan atau menjauhkan manusia dari naluri beragama ini.Padahal naluri-naluri ini sifatnya adalah fitroh atau menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam penciptaan manusia.Sejarah mencatat bagaimana Idola Soekaro ini juga tidak segan-segan menghukum orang-orang yang enggan dengan pemerintahan Kemalis.Pada 13 Juli 1926,15 orang digantung di muka umum.Tahun 1930,800 orang anti Kemalis di tangkap dan dihukum mati.Tahun 1931,keluar peraturan yang melarang media massa mengeluarkan propaganda yang di anggap membahayakan pemerintahan Kemalis.Yang lebih ironis,dengan sekulerisme,ternyata Turki tidak lantas menjadi negara maju dan makmur.Kemiskinan,korupsi dan penyakit-penyaklit sosial lainnya justru menjadi pekerjaan melelahkan bagi pemerintah dan pemandangan yang menakutkan bagi masyarakat.
Demikianlah kira-kira gambaran konkrit posisi naluri beragama dalam diri manusia.Semakin ia terpenuhi maka manusia akan hidup bahagia.Siapa saja yang ingin menikmati hidup dengan mengabaikan naluri ini maka yang diraih adalah kegelapan yang dia telah mengabaikan cahayanya.Bahwasanya yang bisa memenuhi naluri ini adalah Islam karena dialah sebenarnya agama.Dengan dakwah,orang-orang seperti Mandaris,Erbakan dan Erdogan telah mengambil peran yang tepat untuk mendorong naluri beragama orang disekitarnya.Mereka sangat paham bahwa naluri ini tidak bisa bekerja sendiri tanpa ada yang mendorongnya.Sesungguhnya dakwah adalah pendorong yang paling baik untuk nurani ini.Dakwah akan menyentuhnya,membangunkannya untuk kemudian membuka matanya kepada Islam yang sempurna.







  • Senin, 04 Juni 2012

    Kolaborasi Manusia & Setan Menyeru Ke neraka Jahannam


     liberalism


     Taushiyah Vol VII Edisi 77
    Jamaah dan Tauhidul Fikroh
    Belakangan ini kita melihat gejala perpecahan menimpa sekian banyak partai politik dan ormas. Gejala ini banyak disebabkan oleh perbedaan pemikiran dan pandangan diantara individu-individu mereka. Ketika perbedaan itu menggumpal dan tidak ada titik temu, maka terjadilah sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan visi lahirnya partai politik dan ormas tersebut, yaitu perpecahan.
    Kita tentu tidak menginginkan perpecahan terjadi pada jamaah dakwah kita. Untuk mengantisipasi hal itu, tauhidul fikroh (penyatuan pemikiran) harus senantiasa di bina diantara individu-individu jamaah. Hindari ikhtilaf yang menjurus kepada pertentangan, percecokan, perceraian, dan perpecahan. Hal ini sering kita peringatkan agar tidak ada yang memiliki pemikiran yang menyimpang, berdiri sendiri, atau mbalela, keluar dari arus pemikiran jamaah yang kita telorkan. Dalam hal ini, tansiq atau tandzim kejam’ahan adalah acuan kita.
    Tauhidul fikroh merupakan sumber kekuatan sebuah jamaah. Dalam tubuh manusia, tauhidul fikroh ibarat nyawa. Sebuah jamaah betapapun besar dan memiliki banyak pengikut, tidak akan banyak berarti, bila tidak di tompang oleh tauhidul fikroh masing-masing individu di dalamnya. Terbentuknya jama’atul muslimin di kota Madinah duhulu rasanya hanya satu khayalan belaka seandainya tidak ada tauhidul fikroh di kalangan sahabat atas ide-ide dari pemimpin mereka, Rasulullah saw.
     Ada dua aspek pemikiran yang harus kita satukan pikiran, arah, persepsi, dan pandangan kita didalamnya, yaitu aspek fiqh (tauhidul fikroh fiqhiyyan) dan aspek politik (tauhidul fikrah siyasiyan). Tauhidul fikroh dengan demikian tidak hanya dalam hal norma-norma agama yang sifatnya baku, namun juga mencakup cara pandang terhadap dinamika politik yang selalu berubah dari waktu ke waktu, yang diperlukan ijtihad baru di dalamnya, yang semuanya mengacu kepada dalil-dalil syara’. Kesatuan pemikiran kita dalam dua hal ini merupakan cermin persatuan hati dan persatuan perasaan diantara kita.

    Penyeru Ke Neraka Jahanam

    Pemikiran yang harus kita persepsikan secara sama diantaranya ialah membentengi diri sekaligus melawan arus sekularisasi dengan segala jenisnya yang diperkirakan akan menjadi trend di masa-masa yang akan datang. Paham ini berupaya memisahkan persoalan agama (syariat) dari wilayah negara dan kehidupan sehari-hari. Padahal Islam adalah agama sekaligus panduan bagi bernegara (al-islam din wa daulah).
     Paham yang mendistorsi syariat Islam ini anehnya banyak di propagandakan oleh tokoh-tokoh dari kalangan umat Islam sendiri. Mereka mempergunakan dalil-dalil agama untuk membenarkan propagandanya. Tersebarnya paham sekular di kalangan umat Islam agaknya tak lepas dari peran serta mereka.
    Sebagian tokoh dari kalangan umat Islam memandang bahwa negara harus dilepaskan dari campur tangan agama. Mereka tidak menginginkan syariat islam melembaga pada negara. Agama, menurunya, adalah urusan pribadi dan keluarga, sedeang agama adalah wilayah publik yang plural. Umat Islam, serunya, harus menjadi umat yang terbuka dan toleran, memahami agama tidak saja secara tekstual dan literal, melainkan kontekstual, karena masyarkat keberadaanya majemuk. Mereka mencap buruk orang Islam yang fanatik dan komit dengan Islam sebagai muslim radikal, ekstrim, dan tradisional. Mereka membiarkan kema’siatan dan kekufuran merajalela atas nama hak asasi, padal ridlo terhadap kekufuran hakikatnya adalah sesuatu kekufuran juga. Mereka memandang bahwa tata kehidupan sekular-lah yang dicita-citakan oleh para pendahulu. Terbukti, menurut mereka, para pendahulu sepakat membuang Piagam Jakarta yang telah mereka rumuskan dari perundang-undangan negara.
    Propoganda semacam ini, karena dibungkus dengan retorika dan dalih-dalih keagamaan disamping karena oleh orang yang ditokohkan, seakan-akan tampak manis dan benar padahal berbisa dan menggelincirkan. Propoganda ini telah melepas keterikatan sebagaian umat Islam pada ajaran agamanya. Propoganda ini juga mendatangkan nilai-nilau universitas syariat Islam. Propaganda ini di sambut gembira oleh kalangan non-Islam, karena menguntungkan bagi mereka, apalagi di alukan oleh orang dalam umat Islam sendiri. Mereka dengan begitu bisa memukul umat Islam dengan meminjam tangan umat Islam sendiri.
    Rasulullah saw memprediksikan bahwa akan muncul propaganda-propaganda yang menjerumuskan manusia ke neraka jahanam. Propadangan itu menurut beliau, dilakukan oleh kalangan umat Islam sendiri dan mempergunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits. Beliau menyatakan bahwa serbuan propaganda itu merupakan fitnah beragama terbesar yang menimpa umat islam di akhir zaman. Sabda beliau sebagaimana diceritakan sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman (shohibis sirr):

    دُعَّاةٌ عَلىَ اَبْوَابِ جَهَنّمَ، مَنْ اَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا، قُلْتُ: صِفْهُمْ لَنَا: قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِاَلْسِنَتِنَا، قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِى اِنْ اَدْرَكنَىِ ذَلِكَ؟  تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ، قُلْتُ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا اِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقِ كُلِّهَا وَلَوْ اَنْ تَعَضَّ بِاَصْلِ شَجَرَةٍ حَتّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَاَنْتَ عَلَى ذَلِكَ  - رواه البخارى و مسلم
    Ada orang-orang yang menyeru ke neraka jahanam barang siapa menyambut seruan mereka, maka dia akan dilemparkan oleh mereka ke neraka jahanam. Aku (hudzaifah) bertanya, “terangkanlah kepada kami ciri-ciri mereka”. Beliau bersabda,”mereka sekulit dengan kami dan lisannya berdalih dengan dalih kami (Al Qur’an dan Hadits). “apa yang engkau perintahakan bila kami menjumpai hal itu.?” “kamu harus bergabung dengan jamaatul muslimin berikut imamnya”. “bila mereka tidak memiliki jamaah dan tidak juga memiliki imam ?”. “tanya Hudzaifah mengantisipasi. Beliau bersabda, “berlepaslah kamu dari semua kelompok (para penyeru) itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati.”(H.R. Bukhari muslim)
    Propoganda ke neraka jahannam tersebut menjadi fitnah beragama yang terbesar didinding fitnah-fitnah beragama sebelumnya karena fitnah ini: 1) mampu menyerang langsung ke pusat sistem kepercayaan umat Islam. 2) aslinya bukan datang dari dalam Islam tapi dari luar Islam lalu diselundupkan secara paksa pada Islam (sekularisasi misalnya adalah berasal dari gerakan dalam agama Kristen). Dan 3) itu terjadi di saat kaum muslimin di dunia mengalami perpecahan karena tidak adanya insintusi Daulah Islamiyah.

    Tidak Terperosok pada Lubang yang Sama Dua Kali

    Melanjutkan tradisi Islam di masa-masa kerajaan, tokoh-tokoh umat Islam yang mendirikan negara Indonesa telah berusaha meletakkan dasar-dasar bernegara yang baik bagi negeri ini yang juga telah disetujui oleh kelompok-kelompok lain. Dasar-dasar bernegara itu seperti: “negara berdasarkan atas ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya (selanjutnya disebut Piagam Jakarta),” “presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam,” dan digunakannya kata”mukaddimah”bukan”pembukaan” atau “preambule”. Dasar-dasar ini telah dirumuskan pada sidang-sidang BPUPKI yang alot pada bulan juni 1945.
    Piagam Jakarta sebagai kompromi politik ditandatangani 9 orang, yaitu Sukarno, Hatta, Maramis (kristen), Abikusno Cokrosuyoso (Syarikat Islam), Haji Agus Salim (Islam), Ahmad Subarjo, Abdul Kahar Muzakkir (Muhammadiyah), Abdul Wahid Hasyim (NU), dan Muhammad Yamin. Namun, pada sidang PPKI tanggal 8 Agustus 1945, Piagam jakarta dicoret, sekaligus disusun pula rumusan apapun yang berbau Islami.
    Pada peristiwa pencoretan itu tidak ada satupun wakil Islam yang menandatangani piagam jakar diundang, kecuali Abdul Wahid Hasyim. Itu pun putra KH.Hasyim Asy’ari yang waktu itu baru berusia 32 tahun ini tidak hadir karena dalam perjalanan pulang ke Jawa Timur. (Piagam Jakarta,Endang Saifudin Anshari:52). Sementara wakil umat Islam yang hadir dalam sidang PPKI adalah Ki bagus Hadikusumo (Muhamadiayah), Kasman Singodimejo (Muhammadiyah,komandan PETA), dan M. Hasan (Aceh). Kasman Singodimejo diundang baru pagi hari itu. Ketiganya diminta dengan sangat dan bujuk rayu oleh hatta untuk toleransi dan berkorban (mencatat piagam jakarta) demi keutuhan bangsa dan agar kaum kristen tidak merasa di diskriminasi (Dosa-dosa politik,Firdaus A.N: 71)
    Awalnya bermula dari opsir jepang.la sore hari,tanggal 17 agustus 1945, mendatangi Hatta dan membawa pesan dari orang-orang Katholik dan Protestan di Indonesia bagian Timur bahwa mereka keberatan dengan dasar-dasar negara yang berbau Islami. Bila diteruskan juga apa adanya, maka mereka mengancam lebih suka berdiri di luar negara Indonesia. Atas dasar ini bencana pencoretan itu berawal. Padahal siapa nama opsir itu Hatta tidak mengenal dan bagaimana opsir Jepang ini begitu cepat membawa pesan dari kawasan Indonesia bagian timur, sedang baru beberapa jam saja proklamasi dibacakan, ini juga patut dipertanyakan. Pencoretan Piagam Jakarta yang tergesa-gesa sesungguhnya syarat dengan gerak tipu dan penelikungan terhadap umat Islam. Umat Islam ditinggalkan.Pencoretan Piagam Jakarta juga sarat dengan gertakan dan ultimatum dari kalangan Kristen dan Jepang. Umat Islam menjadi korban dari toleransi dan ketidaktegasannya. Pada saat itu terjadilah apa yang disebut kapitulasi, yaitu penyerahan kalah ummat Islam kepeda musuh-musuhnya.
     Ketika proses awal negeri ini buram maka akhirnya buramlah proses-proses berikutnya hingga kini. Peristiwa itu adalah sejarah. Jangan lupakan sejarah. Kenali sejarah itu agar tidak terjadi pengulangan kesalahan dua kali pada tempat yang sama.
    Proses pengesahan UU Sisdiknas beberapa waktu lalu rasanya juga hendak mengulang peristiwa Piagam Jakarta, sarat dengan ultimatum pada penelikungan yang akan berakhir kerugian, kalau saja umat Islam tidak tegas mengawalnya. Orang beriman tidak boleh tersengat dalam satu lubang dua kali. Sabda Rasulullah saw:


    لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ حِجْرٍ وَاحِدٍ مَرّتَيْنِ  -  رواه البخارى ومسلم
    Orang beriman tidak tersengat dua kali dalam satu lubang. (HR. Bukahari Muslim)
    Mewaspadai Kolaborasi Manusia Dan Setan
    Di dalam gerakan penyesatan, setan biasa mengambil rekanan dari kalangan manusia. Setan mengeluarkan bisikan-bisikan jahatnya kepada manusia. Setelah manusia terperangkap bisikan setan, maka jadilah dia sebagai mitra kerja setan. Apa yang keluar dari lidah manusia itu kemudian adalah suara setan. Apa yang dilakukannya itu lalu adalah kelakuan setan. Ia ibarat menjadi perantara (makelar) setan dalam menyesatkan manusia, walaupun tanpa dia sadari. Karena bisikan jahat setan sifatnya halus dan samar. Allah swt berfirman:

    Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. (Q.S. An-Naas: 4-6)
    Dengan kolaborasi (kerja sama) setan dan manusia ini, program penjerumusan manusia ke neraka tampak berjalan mulus. Hal ini terbukti dengan dijumpainya sekian banyak penyeru (propagandis) ke neraka jahanam yang justru berasal dari dalam komunitas kaum muslimin sendiri, berstatus tokoh, dan fasih dalam mempergunakan dalil-dalil agama. (walau tidak pada tempatnya), sebagaimana prediksi Rasulullah saw di atas.
    Mengenai pengaruh bisikan-bisikan jahat setan, tingkatan manusia berbeda-beda. Ada yang sedikit saja dari jiwanya telah dipengaruhi setan, ada yang separuhnya, dan ada yang seluruh jiwanya telah dikuasai setan.
    Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyimpulkan bentuk-bentuk kejahatan bisikan setan menjadi enam tingkatan (dimulai dari tingkatan yang terberat), yaitu:
    1)      jahatnya kekufuran dan syirik (syarrul kufri was syirki). Kejahatan ini adalah yang paling dikehendaki oleh setan dari manusia, karena kekufuran dan syirik menutup manusia dari masuk surga.
    2)      Jahatan perilaku bid’ah (syarrul bid’ah). Perilaku bid’ah menjadi pintu masuk bagi kekufuran dan syirik. Bahaya bid’ah hakikatnya adalah bahaya bagi agama. Ia bahaya yang dapat menjalar ke mana-mana. Ia dosa yang bertaubat di dalamnya sulit diterima.
    3)      Dosa-dosa besar (al-kabair) dengan segala ragam dan jenisnya. Setan sangat loba di dalam menjatuhkan manusia pada dosa-dosa besar, apalagi bila  manusia itu statusnya adalah orang alim nan ahli ibadah. Kita bisa memperhatikan kisah Barsesa.
    4)      Dosa-dosa kecil (ash-shaghair). Kadangkala setan menggoda manusia agar melakukan dosa-dosa kecil sampai manusia itu memandang remeh dosa-dosa kecil itu. Sementara dosa-dosa kecil bila dilakukan terus-menerus dan dipandang remeh jadilah ia bahaya yang besar. Orang yang berbuat dosa besar sekali dan ia menyesali lebih  baik daripada orang yang biasa melakukan dosa kecil dan ia memandang ringan kelakuannya itu. Dosa kecil bila berhimpun maka ia akan berubah menjadi dosa besar.
    5)      Kesibukan manusia dengan hal-hal mubah yang tidak ada pahala dan dosa di dalamnya. Waktunya diarahkan setan agar berlalu sia-sia, tanpa ada pahala di dalamnya.
    6)      Kesibukan manusia dengan kegiatan-kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak untuk dilakukan, sementara ada kegiatan-kegiatan yang bernilai afdhol (mendesak dan penting).
    Bila manusia melakukan enam hal di atas dengan segala tingkatannya, hal itu merupakan petunjuk bahwa bisikan jahat setan (yang selalu bekerja sama dengan manusia) telah menguasai dirinya dengan segala tingkatannya. Hati dan pikirannya dikendalikan setan. Kita berlindung kepada Allah dari bisikan-bisikan jahat setan.
    Menghadapi kolaborasi setan dan manusia dalam program penyesatan, kita harus bersikap mawas diri dan berhati-hati di samping harus meningkatkan ketajaman firasat yang kita ikatkan dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan syariat Islam. Firman Allah swt :
    žSesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was (bisikan jahat) dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Q.S. Al-A’raaf: 201)

               

    Sabtu, 02 Juni 2012

    Menyorot Kondisi Akidah Kita


     
    Taushiyah Vol IV Edisi 42

    Opini global seperti pluralisme ( paham kemajemukan ), humanisme ( paham kemanusiaan ), dan feminisme ( paham kesetaraan jenis kelamin ), dan lain sebagainya tampak cukup mewarnai kehidupan ummat manusia saat ini. Dengan opini-opini global itu jadinya tidak ditemukan lagi perbedaan yang signifikan ( berarti ) antara haq dengan batil. Opini yang selalu lahir dari negara maju ( Barat ) ini ternyata kini berimbas kepada pemahaman akidah yang dianut oleh sebagaian kaum muslimin. Akidah yang harus dibanggakan itu kini mengalami proses penggerogotan, pelunturan, dan pendangkalan.
    Beberapa waktu lalu kita mendapati gejala ummat Islam mengikuti natalan bersama pengikut Kristen, makan makanan mereka, hadir di gereja mereka dan tidak segan mengucapkan: selamat natal, 1 termasuk juga doa bersama antar agama, ta’jil puasa di vihara dan musik kosidah di hari Natal. Kita juga mendapati fenomena ridlo terhadap keberadaan Yahudi yang jahat, berikut para penyokongnya, China dan Amerika. Anehnya itu justru dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dijadikan panutan oleh sebagian besar kaum muslimin. Dalam beberapa waktu mendatang jika ini tidak diantisipasi tentu fenomena ini akan semakin marak seiring dengan mendalamnya ide kemanusiaan dan kemajemukan. Dan pada akhirnya akan kaburlah identitas kaum muslimin yang luhur.
    Opini-opini yang menyesatkan di atas mendapat penerimaan yang baik di kalangan kaum muslimin seringkali dengan menggunakan alasan “serba fiqh”. Fiqh yang dalam sistem hukum Islam memiliki daya kelenturan, keluwesan, akomodasi dan kompromi yang tinggi kerap dipakai sebagai alat pembenaran (justifikasi) terhadap suatu sikap.
    Persoalannya kemudian adalah bagaimana teknis (standart) memilah antara urusan fiqh dan urusan akidah? Contoh soal asas organisasi dan natalan bersama itu kaitannya dengan akidah atau dengan fiqh? Imam Al Ghazali menyebut penerapan fiqh yang diikuti hilah (rekayasa) adalah fiqh dloror (fiqh yang berbahaya). Sementara Soekarno menyebut muslim yang meletakkan fiqh di depan tauhid dan akhlak sebagai muslim sontoloyo.(Di bawah Bendera Revolusi,493)
    Selain alasan fiqh, alasan yang sering digunakan untuk menerima opini-opini di atas ialah alasan sejarah. Kita melihat betapa Piagam Madinah (mitsaq Al Madinah) selalu dipakai alasan terhadap absahnya kesatuan ummat manusia tanpa memandang unsure agamanya. Jonathan Swift, seorang pastor menyatakan bahwa agama hanya membuat ummat manusia saling membenci tidak saling mencintai. Hal yang masih samar di sini ialah alasan sejarah itu sudah pas dan tepatkah penempatannya?
    Walhasil,kini kita melihat kecenderungan sebagian besar arus kaum muslimin dengan berbagai alasan agamanya untuk menerima ide-ide yang bertentangan dengan akidahnya, sebagai akibat dari proses penipisan akidah, setelah mendapati gempuran berbagai opini global berikut tuntunan sikap para tokoh panutannya.

    Farqon dan Nur
    Diantara sifat yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa ialah furqon, yaitu petunjuk yang dengan itu dapat dibedakan antara yang hak dan yang batil. Dengan memiliki sifat ini maka orang yang bertakwa dan beriman akan mendapati kejelasan hukum dalam perilakunya. Sehingga ia tidak sampai terkena jebakan upaya pengkaburan. Di dalam A Qur’an Allah subhanahu wata’ala berfirman:

    Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah mempunyai karunia yang besar.”  (Q.R. Al Anfaal: 29)
    Anugerah furqon ini dalam sifat-sifat orang yang beriman dan bertakwa lainnya disebutkan dengan nur yang dengan nur ini dia mampu menapaki jalan yang terang dan lurus. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya, niscaya Alloh memberikan rahmatNya kepadamu dua bagikan, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa menapaki jalan dan Dia mengampuni kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Hadid: 28)
     Dengan adanya furqon dan nur ini berarti sebagai orang yang beriman dan bertakwa dituntut memiliki prinsip yang jelas sekaligus tegas di tengah arus besar (mainstream) kelembekan banyak orang dalam berakidah. Hal ini diperlukan supaya tergambarkan bahwa tidak pernah ketemu haq dan kebatilan dengan segala perbedaannya yang tajam. Berbagai upaya pengkaburan tentu dapat diantisipasi lewat sini. Sahabat Umar bin Khattab dalam hal ini adalah teladan kita yang begitu kuat intuisi (feeling) furqonnya sehingga ayah Sayyidah Hafshah ini mendapati gelar Al Faaruuq.
    Kecenderungan meniadakan antara hak dan batil serta kecenderungan menipiskan pemisah antara iman dan kekufuran memang berangkatnya dari minimnya keimanan dan ketakwaan (akidah). Untuk mereformasi ihwal ini tentulah dibutuhkan generasi yang memiliki akidah yang mapan sehingga bersamaan denga kemapanan akidahnya itu dianugrahkanlah kepadanya Furqon dan Nur dari Allah swt. Lewat organ kejama’ahan, semoga kita menjadi generasi model begini.     
    Wallohu A’lam